Beautiful Mistress Don't Save Her

Don't Save Her

Sayup-sayup suara gelak tawa membawa kesadaran Gendarly kembali ke alam nyata. Ia mengangkat kepala yang terasa berat dan perlahan membuka matanya lebar-lebar.

Dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna, diedarkannya pandangan ke setiap penjuru ruangan yang terasa begitu asing. Pencahayaan remang-remang berasal dari dua lampu gantung, juga langit-langit ruangan yang dipenuhi oleh kepulan asap rokok.

Jantungnya mendadak berdebar waspada ketika matanya menangkap empat orang pria sedang berkumpul dalam satu meja. Rupanya permainan poker yang membuat tawa mereka menggelegar memenuhi seisi ruangan.

‘Tanganku? Kenapa rasanya sakit?!’ Gendarly mengeluh lantaran kedua tangannya tidak bisa digerakkan.

Oh, damn it!! Nenek Sihir kurang ajar! Untuk apa dia membawanya ke sini? Disekap di rumah tua dengan kedua tangan diikat ke belakang kursi. Kesialan macam apa lagi ini?

“Bos, dia sudah bangun!” Salah seorang pria yang menyadari Gendarly sudah membuka mata, berseru pada pimpinan mereka.

Lelaki yang dipanggil Bos itu beranjak dari kursi setelah meletakkan cerutunya di atas asbak. Lantas mendekati Gendarly dan berkata, “Sudah sadar, Gadis Cantik?”

Gendarly bisa mencium bau tembakau dari mulut lelaki gempal itu ketika dia bersuara. Wajah sangar dan lengan dipenuhi tato mampu menciutkan nyali Gendarly yang sudah menipis.

“Siapa kalian?! Kenapa kalian membawaku ke sini?!” Gendarly berseru tanpa menunjukkan ketakutannya sedikit pun.

“Siapa aku?” Lelaki itu tertawa mengejek. “Aku adalah orang yang akan memilikimu seutuhnya. Orang tuamu punya hutang padaku, dan kamu sudah mereka jadikan sebagai tebusan untuk hutang dua ratus jutanya.”

Gendarly tersentak kaget. “A-apa? Dua ratus juta?” Itu artinya, dia dijual seharga dua ratus juta? Oleh orang tuanya atau lebih tepatnya oleh ayah sendiri? Karena dia tidak pernah menganggap Hana sebagai orang tua.

Apa harga dirinya serendah itu, sehingga bisa dibeli dengan uang?

“Jadi jangan banyak tingkah, Gadis Cantik. Ikuti semua perintahku kalau kamu masih ingin hidup!”

Gendarly mampu merasakan telapak tangan yang besar dan kasar menyentuh pipinya dan perlahan turun ke leher. Namun, dengan cepat dia menjauhkan kepala. “Tidak! Jangan sentuh aku! Aku gak sudi disentuh oleh bajingan sepertimu!!”

BRAKKK!!!

Suara koper yang ditendang dengan keras membuat Gendarly kembali berjengit. Saking keras tendangannya, koper hitam itu sampai terlempar ke luar pintu kaca.

Rupanya bos preman itu tidak terima dengan penolakan, dan suara Gendarly yang meninggi telah memancing amarahnya. Tanpa ampun dia menarik rambut panjang Gendarly dengan kasar hingga membuatnya meringis kesakitan.

Satu pria lain melepaskan ikatan tangannya di kursi, lantas menarik paksa gadis itu untuk terbaring di atas tempat tidur yang terletak tidak jauh darinya.

“Lepasin!! Aku lebih baik mati daripada disentuh olehmu?!!” Gendarly berusaha sekuat tenaga memberontak. Tapi lagi-lagi dia harus menerima kesialan, saat borgol telah mengunci kedua lengannya di samping kiri dan kanan tempat tidur.

Pria itu semakin beringas dan siap menerkam mangsa, berusaha menarik celana jeans yang membaluti kaki jenjang milik Gendarly.

Sementara, genangan air di ujung mata Gendarly siap tumpah saat itu juga. Apa dirinya harus semenyedihkan ini? Dosa apa yang telah dia perbuat sampai-sampai semesta menghukumnya dengan begitu kejam? Andai saja ada orang yang menyelamatkannya saat ini, tentu dia akan membalas kebaikan orang itu. Apa pun! Apa pun akan dia lakukan.

Namun Gendarly harus menepis angan-angannya. Siapa yang akan menolong di tempat seperti ini? Bahkan dia bisa melihat, di balik dinding kaca ruangan ini semuanya gelap dan sepertinya dikelilingi oleh hutan. Mustahil tengah malam begini ada orang yang melewati hutan.

Tapi ... tunggu!!!

Di saat para preman itu sibuk mengikat kedua kakinya karena terus memberontak, Gendarly berhenti mengedarkan pandangannya pada sisi kanan ruangan. Di balik dinding kaca transparan, terlihat ada seorang pria berdiri mematung dan menatap ke arahnya.

Ya! Gendarly yakin, pria itu melihat semua aksi bengis para preman bejat ini. Pun, dia yakin, jika pria itu bukanlah termasuk kawanan mereka. Penampilan rapi dengan kemeja putih tampak kontras dengan penampilan preman yang serba hitam, menakutkan.

Tolong ... tolong aku ... please!

Gendarly masih menatap pria di luar sana dengan tatapan memohon. Berharap pria itu dapat menolong dan mengeluarkannya dari sini.

Satu tetes air hangat tumpah membasahi pelipis, bersamaan dengan terus dirapalkannya kalimat-kalimat permohonan dalam hati.

***

Axl memalingkan muka begitu bersitatap dengan perempuan yang tampak tidak berdaya di dalam sana. Jika Gendarly pikir kedatangan Axl ke sini untuk menolongnya, maka salah besar!

Tidak ada setitik niat pun dalam hati Axl untuk mengeluarkan gadis itu dari masalahnya. Jika ingin menolong, maka sudah dia lakukan sejak tadi, tapi nyatanya ia hanya menghabiskan waktu untuk menonton dari balik dinding kaca.

Keputusannya mendekati tempat ini, hanya ingin memastikan siapa dan apa yang sedang dilakukan oleh orang yang sudah membuat telinganya sakit, lantaran teriakan yang dia dengar beberapa saat lalu.

It’s not my business!

Axl memutar tubuh untuk kembali berjalan menghampiri mobil. Begitu berbalik, ia dikagetkan oleh Matteo yang sudah berdiri dalam jarak dekat. Tubuhnya hampir beradu dengan tubuh Matteo yang sedikit lebih pendek darinya.

“Ngapain kamu di sini, Teo?!”

Matteo menegapkan badan, menyembunyikan keterkejutannya oleh hardikan Axl. “Tuan, eh ... anu ....” Digaruknya tengkuk yang tidak gatal sebab lidah Matteo kelu untuk bertanya.

Mendengar asistennya tergagap, Axl menghentikan langkah. “Ada apa?”

“Apa Tuan tidak ingin menolong perempuan itu?” tanya Matteo ragu dan berusaha melihat efek dari pertanyaannya itu pada wajah Axl. Namun tidak ada ekspresi berarti. Misterius seperti biasanya.

Merasa bukan pertanyaan penting, Axl kembali menyeret langkah di atas tanah lembab. Ngomong-ngomong soal tanah yang dipijaknya, seketika dia menyesal sudah berjalan ke sini. Sepatu seharga gaji Matteo satu tahunnya itu dikotori oleh tanah yang menempel di setiap sisi.

Sepulang dari sini dia akan membuang lalu menggantinya dengan yang baru!

“Bukan urusanku, Matteo. Aku tidak mau menambah masalah. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus kukerjakan.”

“Tapi ... satu orang perempuan berbanding dengan empat laki-laki, bukan lawan yang sepadan, Tuan.” Matteo tidak mau menyerah. Hati nuraninya berbicara dan merasa tidak tega dengan gadis yang saat ini masih berteriak-teriak melawan.

“Sekali lagi kamu ngomong, gajimu kutahan jadi dua tahun!” ucapnya sambil melangkah lebih cepat.

Matteo tentu saja selalu tidak punya pilihan selain menurut kepada Tuannya.

Axl berpikir, untuk apa pula dia menolong seorang perempuan yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Bukankah selama ini Axl dikenal sebagai pria yang tidak memiliki hati nurani? Ya, sepertinya itulah yang sering orang lain katakan mengenai diri Axl.

“Tolong jangan pergi!”

Langkah kaki Axl tiba-tiba terhenti. Apa perempuan itu berteriak padanya? Meski tidak yakin, tapi Axl tahu jika perempuan itu melihat keberadaan dirinya di sana. Keberadaan yang mungkin disalah artikan oleh perempuan itu.

“Kumohon ... tolong aku! Hanya kamu yang bisa menyelamatkanku! Aku janji akan mem—“

PLAKKK!!!

“Diam!!”

SREEETT!!!

Suara kain yang dirobek terdengar jelas di telinga Axl. Jarak rumah itu dan dirinya memang sedikit jauh, tapi keadaan sekitar yang sunyi, suara sekecil apa pun mudah tertangkap oleh telinga. Dengan sebal Axl berbalik. Benar saja, pakaian yang membaluti tubuh perempuan itu sudah terkoyak-koyak tidak utuh lagi.

Axl mengepalkan kedua tangannya hingga urat-urat terlihat menonjol dengan sangat jelas. “Matteo!” serunya dingin.

“Ya, Tuan!” Matteo menyahut dengan sigap.

“Bereskan masalah dia dan preman itu! Kalau mereka minta uang ... pakai ini saja.” Axl mengambil selembar cek yang selalu siap sedia di dalam dompet. Lantas menyerahkannya kepada Matteo. “Sudah kutanda tangani. Isi berapapun jumlahnya sesuai permintaan mereka!”

“Hah?!” Matteo ternganga. Dia memang senang mendengar perempuan itu akan ditolong oleh tuannya. Tapi di sisi lain, dia juga merasa heran dan tidak percaya. “Siap laksanakan, Tuan!”

Matteo bergegas meinggalkan Axl. Tentu Axl tidak perlu khawatir Matteo berurusan dengan empat orang preman sekaligus. Dulu dia merekrut Matteo lantaran pria itu merupakan Tukang Pukul terbaik. Selain wajahnya yang sangar, kemampuan bela diri yang mumpuni, Matteo juga memiliki otak yang cerdas. Namun kadang Axl selalu dibuat kesal oleh tingkah lakunya yang tiba-tiba konyol dan aneh.

***

Axl menunggu di dalam mobil seraya memejamkan mata. Tadi Matteo meminta salah satu anak buahnya untuk membawakan mobil lain untuk menggantikan mobil yang mogok.

Tok! Tok! Tok!

Suara kaca mobil yang diketuk memaksa mata Axl terbuka kembali.

Tampak Matteo memberi kode bahwa urusan yang diperintahkan sudah selesai. Axl menurunkan kaca mobil hingga terbuka lebar. Matanya kemudian tertuju pada seorang gadis yang berdiri mematung di belakang Matteo.

Meski tidak terlalu jelas karena kurangnya penerangan jalan, Axl masih bisa melihat penampilan gadis itu sangat buruk. Memindai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pindaiannya lalu berhenti pada tubuh bagian atas. Kain katun yang dikenakannya sudah tidak membaluti tubuhnya lagi dengan sempurna.

Satu sudut bibir Axl terangkat satu inci, kala melihat tas ransel kecil berusaha perempuan itu jadikan sebagai penutup bagian dada, yang tidak tertutupi oleh baju dengan sempurna.

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin