Beautiful Mistress Save Her Or Not?

Save Her Or Not?

“Lho, dijual gimana, Pak, maksudnya?!”

“Iya, Mbak. Rumah ini sudah dijual kepada saya seharga delapan ratus juta. Jadi ini sudah jadi milik saya!”

“Nggak mungkin!” Gendarly menahan tawa. “Rumah ini atas nama saya, Pak. Mereka nggak bisa menjual begitu saja tanpa persetujuan saya!”

“Tapi jelas-jelas mereka sudah menjualnya, Mbak! Saya tegaskan sekali lagi, ini rumah saya! Sekarang silahkan Mbak pergi dari sini!”

“Nggak mau! Saya akan tetap di sini, karena ini rumah saya. Sekarang Bapak tolong panggilkan Pak Aria alias papa saya. Dia ada di dalam, kan, Pak?”

Lelaki paruh baya yang berdiri di gerbang rumah dua tingkat itu tampak marah, terlihat dari mukanya yang memerah. Ia frustasi karena perempuan ini keras kepala dan tidak mau menyerah. Lalu seseorang keluar dari dalam rumah menyerahkan amplop coklat kepada pria itu.

“Kalau Mbak tidak percaya, ini buktinya!” Ia menyerahkan isi dari amplop coklat tersebut kepada Gendarly.

Dengan saksama perempuan berambut sebahu itu membaca barisan demi barisan tinta hitam dalam surat perjanjian jual beli. Sekarang jelas sudah siapa yang kalah dalam perang adu mulut diantara mereka.

Mata Gendarly menatap nyalang pada nama yang tertera di bawah materai. Hana, yang tidak lain adalah ibu tirinya sendiri, rupanya wanita itulah yang sudah menjual rumah keluarganya kepada pria paruh baya di hadapannya kini. Bagaimana bisa? Bukankah sebelumnya rumah ini sudah menjadi atas nama Gendarly ?

Tidak ingin membuang waktu, pria tua pemilik rumah menyambar kembali kertas berharga miliknya. Ditutupnya keras-keras pintu gerbang hingga membuat Gendarly berjengit kaget.

“Pelan-pelan dong, Pak,” Gendarly menggerutu seraya membalikkan badan, berniat untuk pergi dari rumahnya yang kini sudah bukan rumahnya lagi.

Saat itu juga dia sadar, jika sedari tadi pertarungan adu mulut diantara mereka menjadi tontonan banyak orang yang penasaran. Sebagian menatap iba. Namun tak sedikit juga yang melemparkan tatapan mengejek. Terlepas dari itu semua, Gendarly tidak peduli! Yang ia pedulikan saat ini adalah Nenek Sihir yang sekarang sudah menjadi daftar teratas orang yang paling dia benci!

Suara roda koper yang beradu dengan aspal mengiringi langkah Gendarly yang terlihat gontai. Hah! Padahal baru beberapa jam dia menginjakkan kaki di negara tercintanya ini, tapi kesialan sudah menyerangnya.

Jika tahu dia akan mendapat masalah seperti ini, lebih baik dia tidak pulang saja dari Jepang. Mencari pekerjaan dengan latar belakang pendidikan Sarjana Arsitektur, lulusan universitas terbaik Jepang, bukanlah sesuatu hal yang sulit di Negeri Sakura sana.

Seketika dia menyesali kepulangannya ke Indonesia.

TIIINN!!!

Tubuh Gendarly tersentak kaget ketika klakson mobil berteriak padanya. Hal itu mampu menghempaskan kembali pikirannya pada dunia nyata. Dia menyadari jika kini kakinya sudah berpijak di pintu keluar komplek perumahan, tempat rumah bekasnya berada.

Teringat sesuatu, segera dia menelepon Nenek Sihir yang dibencinya. Dia harus memperhitungkan perbuatan yang sudah dilakukan wanita itu. Setidaknya untuk saat ini, dia hanya perlu menemui lantas meminta uang hasil dari penjualan rumah milik orang tuanya.

Lama Gendarly menunggu, akhirnya panggilannya tersambung dan terdengar suara yang memuakkan dari seberang sana.

“Halo, Tante," sapanya pada ibu tiri yang tak pernah dia anggap sebagai ibu. Karena baginya hanya ada satu ibu, dan dia sudah meninggal.

“Eh? Darly, apa kabar, Sayang? Kapan kamu akan pulang ke Indonesia?”

Gendarly menirukan kalimat ibu tirinya dengan gerakan bibir tanpa suara, seperti sedang mengejek. Nada lembut penuh kepalsuan! makinya dalam hati.

“Ini aku udah pulang kok, Tan. Tadinya mau balik ke rumah, tapi ternyata rumah itu udah dijual sama Tante.” Langsung pada intinya, dia sedang tidak ingin basa basi sekarang. “Tante pindah rumah ke mana? Aku mau nginep.”

“Oh? Eh ... boleh, Sayang. Tante jemput ke tempat kamu ya. Sekarang kamu lagi di mana?”

Dijemput? Sebelah alis Gendarly terangkat mendengar hal aneh yang tidak biasanya. Namun ia tidak ingin berpikir panjang. Apa pun caranya, dia harus bertemu dengan wanita itu.

Gendarly mengirimkan lokasi tempatnya berada sekarang, tepat setelah panggilan mereka berakhir.

[Kamu jangan ke mana-mana, ya, Sayang. Tunggu aja di sana. Nanti yang jemput nggak akan lama, kok.] Isi pesan balasan dari Hana, sang ibu tiri, yang tidak Gendarly balas pesannya.

***

“Tuan, mereka sudah siap.” Seorang pria berwajah kaku berkata pada lelaki yang duduk di balik kursi kebesarannya. Ia bersuara setelah sebelumnya sedikit membungkukkan badan, memberi hormat.

Mendengar informasi tersebut, perlahan kursi tinggi itu berputar. Hingga asisten pribadinya dapat melihat dengan jelas sosok kharismatik berbalut jas hitam.

“Jangan mengecewakanku lagi, Matteo.” Pelan namun penuh ancaman di dalamnya.

Pria berwajah kaku yang bernama Matteo itu mengacungkan jari jempolnya seraya tersenyum simpul. “Saya jamin, kali ini anda tidak akan kecewa, Tuan Axl.”

“Bagus! Gajimu akan kutahan selama satu tahun kalau ucapanmu tidak terbukti benar!” ancam Axl sambil lalu. Berjalan dengan angkuh menuju kamar tidur luas yang telah disiapkan untuknya.

Satu sudut bibir Axl terangkat begitu melihat tiga orang perempuan tengah duduk di sofa dan melemparkan senyum menggoda kepadanya.

“Stand up!”

Dengan cepat ketiga wanita itu menuruti perintah sang Tuan yang akan memilih salah satu dari mereka. Untuk dijadikan teman tidurnya malam nanti.

Axl berdiri bersedekap dada di hadapan mereka. Mata elangnya memindai satu persatu tubuh wanita dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Pipi para wanita itu bersemu merah. Merasa gugup dan darahnya seolah berhenti mengalir lantaran ditatap dengan tatapan mematikan. Sorot mata tajam yang mampu membuat wanita mana pun rela bertekuk lutut padanya.

Hawa dingin air conditioner sama sekali tidak membuat tubuh mereka yang dibalut lingerie serba mini itu kedinginan.

Semua harus sempurna di mata Axl!

Kaki putih, mulus dan jenjang adalah hal yang mutlak wajib dimiliki oleh setiap wanita yang akan tidur dengannya. Tidak boleh ada bekas luka apalagi stretch mark.

Tidak boleh ada tumpukkan lemak di perut!

Bibirnya? Tentu saja harus seksi dan kissable lips!

Okay. Harus diakui, ketiga perempuan itu memiliki kriteria yang baru saja disebutkan. Tapi tidak sampai di situ! Axl tidak akan membuatnya begitu mudah. Wanita yang satu ranjang dengannya harus ‘bersih’ dan sempurna.

Axl bergerak maju mendekati para wanita bayaran itu, lalu diraupnya buah dada mereka satu persatu, saling bergantian dan memberikan sedikit penekanan oleh sebelah tangannya. Sampai terdengar lenguhan pelan meluncur bebas dari mulut wanita itu.

Tidak lama, lantas lirikan tajam ia lemparkan pada salah satu wanita. “Tinggalkan tempat ini sekarang juga!”

Si wanita itu menahan malu. Apa yang salah dengan buah dadanya? Apa terlalu kecil? Padahal menurutnya, ukurannya besar dan sempurna.

Dua wanita yang lain tersenyum bangga lantaran masuk ke babak seleksi selanjutnya.

Axl menempelkan sebelah tangannya pada bokong wanita pertama dan meremasnya perlahan. Ouch! Tidak sempurna!

“Ikuti langkah wanita tadi!” Dengan cepat Axl memberi perintah agar wanita itu pergi dari ruangannya.

Senyuman wanita terakhir semakin mengembang bangga pada bibir merah menyalanya. “Saya begitu sempurna, Tuan. Percayalah, anda akan terpuaskan malam ini.” Matanya mengerling seiringan dengan nada bicaranya yang lembut dan menggoda.

Tidak ada ekspresi yang berarti di wajah Axl. Dia hanya sibuk mengumpat dalam hati. Jika wanita terakhir ini gagal, Matteo harus siap-siap jatuh miskin selama satu tahun!

Axl harus memeriksa satu hal lagi. Diputarnya tubuh wanita itu agar dia bisa melihat dengan jelas bentuk punggung seperti apa yang dimilikinya. Lingerie yang dipakainya memang tidak menutupi bagian punggung. Hanya terlihat tali tipis yang melingkari leher dan pinggangnya.

“Matteo, mati, kau!” umpatnya setelah memastikan wanita ini pun tidak sempurna untuk dijadikan teman tidurnya.

Terpaksa Axl harus menyimpan kembali hasratnya dan itu tentu sangat menyebalkan. Namun Axl tidak bisa melampiaskan gairahnya pada wanita yang menurutnya tidak 'sempurna'. Ia bergegas keluar ruangan mencari tersangka yang bernama Matteo. Lagi-lagi asistennya itu gagal untuk ke sekian kalinya. Kali ini tidak akan dia ampuni!

“Tuan, kenapa mereka semua pergi?” Dengan perasaan cemas, Matteo buru-buru menghampiri Axl yang sudah berteriak memanggil namanya. Uang gaji satu tahunnya siap-siap raib setelah ini.

“Mulai hari ini kamu harus menghemat tabunganmu! Dan pastikan uang itu cukup untuk satu tahun!”

“APA?!! JADI ANCAMAN ANDA TIDAK MAIN-MAIN?!”

Axl mengorek telinganya dengan jari telunjuk dan menatap tajam Matteo. “Jangan meninggikan suaramu lebih tinggi dariku!”

Matteo sontak mengatupkan mulutnya lantas tertunduk. “I-iya, Tuan.”

“Sekarang antarkan aku ke Puncak Resort! Ada pekerjaan yang harus aku urus di sana.”

***

Empat puluh lima menit telah lalu. Gendarly masih terduduk di kursi besi yang sengaja Pemerintah siapkan di trotoar. Sementara, kedua bola matanya tertuju pada koper hitam berukuran sedang yang berdiri mematung di sebelah kakinya.

Untuk pertama kalinya dia berterima kasih pada Pemerintah setempat lantaran telah menyediakan kursi ini sebagai fasilitas untuk istirahat warga. Jika tidak ada kursi, mungkin kakinya akan pegal-pegal saking lamanya berdiri, menunggu Tante Hana menjemput.

“Gendarly Aria Putri?”

“Ya. Saya!” Sontak Gendarly menangadah ketika nama lengkapnya dipanggil oleh seorang pria. Matanya menyipit pada tiga orang pria berperawakan tinggi besar dengan pakaian serba hitam, sedang menghampirinya.

“Kalian siapa?” Tubuh Gendarly seketika berada dalam mode waspada. Berdiri dan mengeratkan ransel kecil dipelukannya. Sebab semua barang berharga miliknya ada di dalam tas tersebut.

“Kamu ikut kami sekarang! Bu Hana sudah memberi perintah kepada kami!” jawab salah seorang dari ketiga pria itu.

“Hah?! Apa saya nggak salah dengar?” Sejak kapan ibu tirinya itu punya kekuasaan untuk memerintah preman seperti mereka?

Belum sempat ia bertanya lebih jauh, muncul satu pesan dari wanita yang saat ini ada dalam pikirannya.

[Yang jemputnya sudah datang belum? Kamu jangan kaget ya, Darly, saat lihat mereka. Walaupun penampilannya seperti preman, tapi mereka baik, kok. Kamu ikuti aja apa kata mereka.]

Gendarly sempat meragukan ketiga orang ini dan isi pesan yang dikirimkan Hana. Tapi ... ah sudahlah! Yang penting dia bisa bertemu dengan Nenek Sihir itu! Dia menurut saja ketika para preman menggiringnya masuk ke dalam mobil hitam.

Tanpa kecurigaan sedikit pun, Gendarly duduk manis di kursi belakang. Mobil bergerak perlahan bergabung dengan ratusan kendaraan lainnya, bersamaan dengan tulang belulangnya yang tiba-tiba terasa lemas. Pandangannya pun seketika mengabur lantas berubah hitam.

‘Ada apa ini? Kenapa seperti ini?’

***

“Mobilnya kenapa, Teo?!” Axl menatap nyalang Matteo ketika mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba mati. Masalahnya mobilnya ini berhenti di jalan yang sangat sepi dan jauh dari rumah warga. Sementara, keadaan di sekitar sudah gelap gulita.

Matteo melirik ke belakang untuk menjawab pertanyaan Axl. “Saya cek dulu, Tuan.”

“Ya sudah sana!” Axl mengibaskan tangan menyuruh Matteo segera keluar untuk mengecek masalah yang terjadi.

Matteo bergegas keluar dan membuka kap mesin di bagian depan. Tak lama, pria bertubuh tinggi tegap itu kembali memasukkan setengah badan ke dalam mobil. “Gawat, Tuan. Sepertinya ada masalah dengan mesinnya.”

“Shit! Sebelum berangkat kenapa tidak kamu cek dulu?!”

“Maaf. Tadi Tuan meminta saya buru-buru, jadi saya tidak sempat mengecek.” Matteo membela dirinya sendiri dengan ragu.

“JADI KAMU NYALAHIN SAYA?!!”

“Ti-tidak, Tuan. Saya tidak bermaksud—“

“Cepat telepon bantuan! Saya tidak punya banyak waktu.”

“Baik, Tuan.”

Setelah berlalunya Matteo, Axl mengembuskan napas kasar seraya mendaratkan punggungnya di sandaran kursi. Hari ini dia sudah dua kali dibuat kesal oleh asisten pribadinya itu. Kesalahan Matteo yang pertama, dia gagal menyediakan wanita panggilan untuknya. Dan yang kedua, masalah mobil yang baru saja terjadi.

Karena dirasa terlalu lelah, Axl mencoba untuk memejamkan matanya.

“Tidak! Jangan sentuh aku! Aku gak sudi disentuh oleh bajingan sepertimu!!”

Arrghhh ...! Berisik sekali!

Baru saja Axl berhasil memejamkan mata, tiba-tiba teriakan seorang perempuan dari kejauhan menyakiti telinganya.

Terpaksa ia membuka mata dan menoleh ke arah sumber suara. Satu alisnya terangkat ketika seorang lelaki bertubuh gempal menendang koper hitam dengan begitu keras.

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin