Istri Pertama Bab 1. Pinangan

Bab 1. Pinangan

Jangan lupa Vote dan komen ya manteman🤗❤️

Angin sepoi mengantarkan melodi alam yang begitu memukau. Tetesan embun menambah sejuk suasana. Awan cerah berhias mega, tampak mempesona bagi yang melihat.

Kicauan burung pun tak absen mengisi semaraknya hari. Sungguh keindahan alam yang luar biasa. Aku masih memandang birunya langit saat ibu memanggil.

"Ada apa, Bu?" tanyaku saat sudah tiba di hadapan ibu dan bapak.

Tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota, membuatku sedikit ketinggalan jaman. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, aku berdiam diri di rumah. Rasanya memang ingin sekali pergi merantau, tapi tak kuasa meninggalkan ibu dan bapak yang sudah sepuh.

Usiaku masih 19 tahun, dan tidak memiliki saudara. Oleh karena itu, aku merasa berat saat harus meninggalkan mereka.

Lama tak kudengar suara mereka, akhirnya bapak menjelaskan suatu hal yang membuatku terkesiap.

"Nak, ada seseorang yang ingin melamarmu." Bapak menatapku dengan tatapan teduh menenangkan.

"Siapa, Pak?" tanyaku.

"Anaknya teman Bapak. Mereka akan datang besok pagi," ucap bapak.

"Loh, mengapa mendadak sekali? Aku belum siap, Pak." Mata ini terasa mulai memanas. Mungkin sekali berkedip, cairan bening akan luruh di pipi.

"Maafin kami, Nak. Bapak sama ibu tidak punya pilihan lain," ujar ibu.

"Maksudnya, Bu?" tanyaku.

"Bapakmu punya hutang yang cukup besar semasa muda dulu. Hingga kemarin, tidak sengaja bapak bertemu dengan teman lama bapak yang sudah memberikan pinjaman."

Cukup lama keadaan berubah hening, hingga bapak kemudian menyambung cerita ibu.

"Beliau menanyakan perihal hutang tersebut, Nak. Kamu tau sendiri bagaimana keadaan keluarga kita. Bapak hanya seorang tukang becak, untuk makan sehari-hari saja sulit," ucap bapak sambil menundukkan kepala.

Cairan bening lolos dari mataku saat mendengar cerita bapak. Betapa durhakanya aku yang tidak membantu mereka. Seharusnya aku bekerja untuk membiayai kehidupan mereka. Putri macam apa aku ini.

"Maafin Aku, Pak. Seharusnya aku tidak hanya berdiam diri di rumah. Maaf, Pak, Buk."

Tangisku semakin menjadi.

"Sudahlah, Nak. Tidak apa-apa, lagi pula kami juga senang kamu selalu ada di samping bapak dan ibu," ucap ibu sambil memelukku hangat.

"Bagaimana, Nak? Apa kamu bersedia menikah dengan anaknya teman Bapak?"

"Apa mereka akan menerima keluarga kita, Pak? Kita hanya orang kampung yang tidak punya apa-apa. Aku takut sekali jika mereka akan memperlakukanku semena-mena," jawabku.

"Tidak, Nak. Teman Bapak bukan orang yang seperti itu. Mereka dari keluarga baik dan taat beragama. Mereka juga tidak pernah memandang status maupun derajat orang lain."

'Aku harus apa Ya Allah? Hati ini masih merasa ragu dan bimbang, tetapi juga tidak tega melihat tatapan teduh bapak dan ibu.'

Setelah perdebatan batin yang cukup lama, aku memutuskan untuk menerima lamaran tersebut. Sebagai tanda bakti kepada bapak dan juga ibu yang sudah sabar dan tulus menyayangiku.

"Baik, Pak. InsyaAllah aku menerimanya dengan ikhlas."

"Alhamdulillah, terima kasih, Nak."

Kupeluk kedua orang yang amat kusanyangi. Cintanya abadi, tidak pernah lekang oleh waktu. Ibu, bapak aku menyayangimu.

Keesokan harinya, ibu dengan semangat membersihkan seluruh rumah. Sementara beberapa orang tetangga tengah sibuk memasak di dapur. Ya begitulah tradisi di desaku ini. Selalu bergotong royong walau sekecil apapun pekerjaan itu.

Tak lupa, aku juga turut membantu memasak. Walau hanya menu sederhana, semoga saja keluarga teman bapak nanti akan menyukainya.

"Loh, cah ayu. Mau dilamar kok malah panas-panasan di dapur?" goda Bi Santi--tetanggaku--.

"Bibi loh ada-ada aja. Memang kalau mau di lamar ngga boleh masak?"

"Ya bukan gitu, nanti takutnya hitam haha," ucap Bi Santi lagi. Memang kami memasak masih menggunakan kayu, jadi pengap dan panas kami rasakan.

"Tidak apa-apa, Bi. Jika memang niat mereka tulus, pasti ngga papa liat aku item."

"Terserah kamu aja lah, Ras."

Hari semakin siang saat dua buah mobil mewah masuk ke pekarangan rumah yang tak begitu lebar milik bapak. Jantungku semakin menggila, berdetak tidak karuan.

Ada perasaan ragu yang bergelayut di hatiku. Bagaimana jika mereka tidak suka padaku?

Mereka orang berada, tentunya orang yang memiliki peranan penting di dunia. Lalu, apa aku ini? Saat mau dilamar pun, aku hanya memakai gamis semata kaki berwarna maroon serta jilbab dengan warna senada.

'Astaghgirullahaladzim.'

Aku beristighfar dalam hati. Tidak seharusnya begini, ini sudah menjadi keputusan demi bapak dan juga ibu. Aku tersentak saat ibu tiba-tiba membuka pintu kamarku.

"Saras, ayo, Nak. Tamunya sudah menunggu."

"Baik, Bu." Aku berkaca sebentar, memastikan penampilanku rapi.

Setelah itu, dengan dituntun oleh ibu aku berjalan menuju ruang tamu. Pandanganku masih fokus ke lantai ubin. Tidak berani menatap tamu yang kata bapak akan melamarku.

Tiba di ruang tamu, aku duduk di samping bapak.

"Saras, perkenalkan ini Pak Adnan Semesta, teman Bapak dulu." Bapak memperkenalkan sosok laki-laki paruh baya yang masih terlihat segar dan tampan.

"Putrimu cantik sekali, Wan," kata Pak Adnan.

"Kamu bisa saja, Pak. Tukang ke sawah ini anak, jadi kulitnya hitam begini, hehe." Bapak berujar dengan disertai kekehan.

Kucubit perut bapak, malu rasanya.

"Namanya siapa, Wan?"

"Namanya Saraswati Nara, Pak."

"Nama yang bagus dan cantik seperti orangnya. Saras, perkenalan ini istriku," ucap Pak Adnan.

"Nama saya Saras, Bu." Kucium tangan wanita paruh baya istri dari Pak Adnan.

"Ya ampun, manis sekali. Namaku Erlina. Kamu panggil Mama saja ya, Nak!"

"Eh, apa tidak apa?" tanyaku.

Dengan senyum manis Mama Erlina mengatakan tidak apa-apa. Lagi pula aku akan segera menjadi menantunya.

Tidak sengaja, pandanganku jatuh ke sosok pria tampan yang mempesona. Raut wajahnya tegas, sorot matanya juga terlihat tajam dan sedikit menakutkan menurutku. Apa mungkin orang itu yang akan menikah denganku? Lagi-lagi jantungku berdetak tidak karuan. Sungguh, aku tidak mampu berkata-kata.

"Saras, ini anak kami. Namanya Aksa Lintang Semesta, calon suami kamu," jelas Mama Erlina.

Pria yang baru saja aku tahu namanya, menyodorkan tangan berniat menyalami tanganku. Tanpa mengurangi rasa hormat, kutangkupkan ke dua tangan di depan dada. Tidak seharusnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram saling bersentuhan.

Meski bukan seorang yang sangat taat agama, setidaknya aku tahu hal apa yang boleh dan tidak untuk dilakukan.

Dengan ekspresi canggung, ia menurunkan tangannya.

"Langsung saja ke intinya, maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk meminang Nak Saras menjadi istri dari putra kami, Aksa. Bagaimana, Pak Ridwan?" tanya Pak Adnan memulai inti percakapan.

"Alhamdulillah, saya terima kedatangan Pak Adnan sekeluarga dengan tangan terbuka. Maaf apa bila rumah kami tidak begitu nyaman. Untuk keputusan tersebut, saya serahkan kepada putri saya. Sebab, ia yang akan menjalani hubungan ini."

"Terima kasih banyak, Pak. Rumahnya nyaman, suasananya juga damai dan sejuk."

"Syukurlah kalau begitu, Pak Adnan."

"Jadi, bagaimana Nak Saras?" Kali ini Pak Adnan memberikan pertanyaan kepadaku.

"Sebelumnya Saras ucapkan terima kasih kepada keluarga Pak Adnan. Bolehkah Saras bertanya kepada Mas Aksa?"

"Tentu saja boleh sayang, silakan tanya saja," ucap Mama Erlina.

"Apa Mas Aksa benar-benar sudah mantap meminang Saras?"

"Ya." Jawaban singkat dan padat kuterima dari Mas Aksa. Pandangan matanya begitu tajam menatapku. Ruang tamu hening, hanya terdengar sepoi angin yang melambaikan pepohonan di luar rumah.

"Bismillah, InsyaAllah Saras menerima pinangan ini. Saras bersedia menjadi istri Mas Aksa." Semoga ini keputusan yang tepat. Kuhembuskan pelan nafas sebagai tanda berkurangnya beban yang mengganjal di hati.

"Alhamdulillah."

Semua yang hadir tampak bahagia. Bahkan ibu sampai menitikkan air matanya. Oh ibu, aku akan sangat merindukanmu.

Kumandang adzan dzuhur terdengar. Para lelaki bergegas menuju masjid, sedangkan perempuan shalat di rumah.

Sebelum menyudahi doa, aku memohon kepada Allah agar semua dilancarkan. Semoga kehidupan pernikahanku nanti bahagia dan harmonis.

Selesai shalat dan makan siang, para orang tua membahas tanggal yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Aku tidak banyak bicara, jika ditanya menjawab jika tidak maka diam.

Pak Adnan dan bapak bersalaman ketika tanggal sudah diputuskan. Senyum terpatri dari wajah mereka. Semuanya tampak menampilkan raut bahagia, kecuali ... Mas Aksa.

Atau mungkin itu hanya perasaanku saja? Entahlah, semoga semua baik-baik saja. Terhitung 5 hari lagi, maka aku akan menyandang status menjadi seorang istri.

Ya, 5 hari lagi maka kehidupanku akan berubah sepenuhnya.

"Selamat datang di kehidupanku, wahai calon imam. Semoga ketulusan ada di hatimu saat ini dan seterusnya."

- Saraswati Nara.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin