Suami Pengganti Ditinggal di Hari Pernikahan

Ditinggal di Hari Pernikahan

1 Ditinggal di Hari Pernikahan

***

Aku duduk di depan cermin sambil memandangi diriku yang rasanya sudah tak ada artinya lagi. Riasan di wajahku sudah luntur karena aku kebanyakan menangis, rambutku sudah berantakan. Ya, setengah jam dari sekarang akad akan segera dimulai. Namun, calon suamiku belum juga datang. Calon mertuaku mengatakan kalau putranya pergi dari pagi tadi. Mereka kira Saka – calon suamiku – datang menemuiku. Tapi itu tidak terjadi. Entah ke mana dia pergi.

Aku beberapa kali mencoba menghubunginya, tapi nomor ponselnya tak aktif. Aku benar-benar kecewa padanya. Apa dia tidak memikirkan bagaimana keluargaku yang sudah menganggap dia seperti anak sendiri? Aku menjalin hubungan sudah 1 tahun, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk serius ke jenjang selanjutnya. Tapi apa ini? Dia membuatku benar-benar hancur.

“Nay, kamu tenang dulu. Oke?” ungkap Maya – sahabatku yang menjadi saksi bagaimana hubunganku dengan Saka. Ya, kami berasal dari kampus yang sama tempat Ayahku – Reyhan – mengajar.

Selama 4 tahun kuliah, Saka hanya sering mendekatiku, tapi aku tidak pernah menganggap kehadirannya. Aku tidak tertarik untuk pacaran waktu itu. Hingga saat aku sudah menyelesaikan pendidikanku di perguruan tinggi, dia semakin gencar mendekatiku dan akhirnya kami pacaran.

“Tenang kamu bilang? Kamu lihat jam, May! Kalau dia mau nyakitin aku, kenapa harus mengorbankan keluargaku? Keluargaku akan malu karena hal ini, hiks.” Aku memeluknya dan menangis. Aku sungguh lemah saat ini. Hanya takdir yang bisa menyelamatkanku saat ini.

Maya mengusap bahuku lembut. Andai aku tahu kalau semuanya akan begini, aku tidak akan pernah mau ada di posisi ini.

“Andai aku tahu Saka di mana, aku pasti akan membawa dia datang ke sini, tapi sayang, aku tidak tahu di mana. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang.”

Bukannya melepas, aku semakin menenggelamkan kepalaku dalam pelukan Maya.

“Maafkan Om, Om tidak tahu kalau semuanya akan jadi begini.”

Aku mendongak, menatap ke arah pintu yang sudah ada Om Toha – ayahnya Saka. Dia terlihat menyesal karena tidak bisa menghadirkan anaknya di hari pernikahanku dan anaknya.

“Tapi sekarang bagaimana, Om? Ini sudah telat. Aku tidak ingin Ayah dan Bunda malu. Aku sangat menyayangi mereka.”

“Kamu tenang saja. Om akan usahakan semampu Om kalau hari ini kamu tetap akan menikah.” Setelah mengucapkan hal itu, Om Toha langsung pergi dari hadapanku. Apa pun yang akan terjadi hari ini, aku sudah memasrahkannya pada Allah. Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa mencari laki-laki yang akan menikahiku dalam waktu setengah jam, aku juga tidak mungkin mencari Saka yang entah di mana keberadaannya.

“Bunda.” Aku langsung berlari ke arah Bundaku saat dia masuk ke dalam kamarku. Maya hanya bisa tersenyum menatapku yang masih begitu manja pada Bundaku.

“Bagaimana, Tante?” tanya Maya mewakili pertanyaanku.

“Pak Toha meminta waktu selama satu jam. Entah apa yang akan dia lakukan. Dia pergi, tapi istrinya tetap di sini. Kalau saja Tante tahu, Saka ternyata bukan orang yang bisa bertanggung jawab pada anak Tante, Tante tidak akan pernah mengizinkannya menikahi Nayla. Nayla anak Tante satu-satunya, dan dia berani mempermainkan hati anak Tante. Kalau saja dia hanya memainkan di waktu pacaran, Tante masih bisa memaafkannya. Tapi kamu lihat, May! Dia beraninya meninggalkan Nayla di hari pernikahan.”

Aku terisak dalam pelukan Bunda. Bunda pernah bercerita, Ayahku dulu mengejar-ngejarnya. Bahkan yang katanya ayah dulu adalah playboy, dan langsung menghindari hal itu demi mendekati Bunda. Meskipun ayah sangat lama menunggu Bunda, tapi dengan sabarnya ayah bertahan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sabarnya ayah menunggu bunda waktu itu.

“Iya, Tante. Maya juga tahu. Tapi Maya heran dengan Saka. Dia itu terlihat sangat mencintai Nayla. Bagaimana bisa dia tiba-tiba pergi dari rumah. Pasti dia punya alasan, Tan.”

Percuma, May! Mau kamu membela laki-laki itu juga, dia tidak akan pernah datang. Cinta yang katanya untukku, aku sudah tak percaya lagi. Apa pun alasannya, tapi ini sudah menyangkut kehormatan keluarga, aku sulit memaafkannya.

“Cukup, May! Kamu tidak perlu membela dia. Kalau dia memang berniat membatalkannya secara baik-baik, dia bisa bicara pada kami. Tapi apa? Laki-laki seperti apa yang sedang kamu bela? Laki-laki yang meninggalkan calon istrinya di hari pernikahan? Bahkan mendengarnya saja sudah membuat Tante jijik padanya.”

Maya langsung terdiam. Bunda kalau marah memang menakutkan. Lebih menakutkan dari pada Ayah. Oleh karena aku, aku jarang berani curhat masalah yang benar-benar pribadi sebelim aku menceritakannya pada Ayah.

“Sayang.” Aku mendengar panggilan Ayahku. Aku langsung berlari ke pelukannya.

“Kamu lihat, Mas. Nayla harus menghadapi hal ini gara-gara laki-laki yang Mas anggap baik itu.”

Ayah tidak menjawab ucapan Bunda dan malah mengusap rambutku. Dia melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku.

“Kalau bunda malah menyalahkan laki-laki itu, suasana akan semakin rumit. Untuk saat ini anak kita butuh ketenangan. Tugas kita adalah meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.”

Ini yang paling aku suka dari Ayah. Beliau itu pandai mengendalikan emosi. Meskipun aku tahu kalau ayah sedang dalam kondisi marah sama seperti ibu, tapi Ayah bisa menyembunyikan hal itu dariku.

“Ayo, Bun. Mempelai laki-laki sudah datang.”

Aku langsung menatap ayah dengan serius. Apakah Saka datang?

“Benarkah? Aku akan marahi dia saat ini juga.” Bunda berucap serius.

“Tidak, Bun. Kendalikan dirimu. Ayo,” ajak Ayah mengulurkan tangannya.

Aku melihat kepergian Ayah dan Bunda dengan tatapan tak dapat diartikan. Aku memang bicara bahwa aku tetap ingin di kamar sebelum disahkan oleh suamiku. Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara laki-laki.

“Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Adzkiya binti Reyhan Syafiq dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”

SAHH!

Air mataku menetes begitu saja. Sekarang aku sudah menjadi istri orang lain.

“Alhamdulillah … selamat ya Nayla. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.” Maya memelukku dan membantuku berdiri.

“Alhamdulilllah, May.”

Maya melepas pelukannya dan mengambil bedak.

“Dandanan kamu benar-benar kacau.” Dengan telaten dia membersihkan air mataku dan menumpuk dandananku yang berantakan dengan sedikit ‘make up’.

“Sudah, ayo.”

Aku menggandeng tangannya dengan erat. Aku menuruni tangga dengan pelan. Aku tahu, Saka pasti akan datang padaku. Dia sangat mencintaiku. Aku lihat ayah yang mengusap air matanya, dan juga bunda yang tidak melepaskan tangannya dari ayah.

“Ayo, Nay. Kecup tangan suamimu.”

Saat aku sudah sampai di depan orang yang katanya adalah suamiku, aku langsung mendongakkan kepalaku yang dari tadi tertunduk. Jantungku berdetak kencang mengetahui fakta ini. Dia bukan Saka? Siapa laki-laki ini?

Bersambung …

***

Kangen Reyhan dan Nisa? Aku kangen hehehe … Tambahkan ke rak buku kalian dan berikan dukungannya ya. Terima kasih.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin