Hidden Rich Man Jangan Ganggu Aku

Jangan Ganggu Aku

“Kamu harus pulang bersama kami. Keluarga Santoso membutuhkanmu untuk mengurus semua situasi dan kondisi yang sedang terjadi sekarang,” ucap seorang laki-laki yang mengenakan setelan pakaian berwarna hitam.

“Ayahmu sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit dan saudaramu di penjara. Sekarang hanya kamu yang bisa menolong keluarga Santoso,” ucap seorang laki-laki paruh baya lain dengan nada memohon.

“Nenek memerintahkan kami untuk membawamu pulang apa pun yang terjadi,” ucap laki-laki dengan setelan pakaian berwarna hitam itu.

Gerald yang sedang memegang sebuah kotak hadiah di Jalan Block dengan mengenakan pakaian lusuh yang dibeli di sebuah kios pinggir jalan tampak tidak peduli dengan ucapan kedua orang itu.

“Dari kecil aku memang tidak pandai dalam mengucapkan hal-hal manis untuk menyenangkan hati nenek. Nenek sangat menyukai kakakku. Nenek selalu takut kalau aku akan menjadi tembok besar dan mengambil posisi ahli waris keluarga dari kakak yang notabenenya adalah anak laki-laki pertama. Dia mengusirku begitu saja dari keluarga. Menurut kalian apa itu yang disebut keluarga?” ucap Gerald dengan nada yang dingin.

“Aku sudah tiga tahun berada di dalam keluarga Hermanto. Aku mengalami banyak sekali hinaan dan cacian dari orang-orang. Apakah keluarga Santoso pernah memedulikan hal itu? Mereka yang selalu menghalalkan segala cara untuk mengeluarkanku dari keluarga, lalu sekarang memintaku kembali hanya dengan hal sesederhana ini? Kalian anggap aku seekor anjing yang bisa langsung datang dan pergi ketika dibutuhkan saja?” lanjut Gerald dengan penuh penekanan.

“Sekarang aku hanya ingin diam, tenang, dan menjadi seorang pengecut. Jangan pernah mengangguku lagi!” bentak Gerald yang tampaknya sudah sangat emosi. Gerald mengambil langkah besar dan meninggalkan kedua orang yang saling memandang.

Keluarga Hermanto adalah keluarga kelas dua paling terpandang di kota Jakarta. Tiga tahun lalu Gerald hanyalah seekor anjing yang tidak terurus tanpa makanan dan uang di pinggir jalan. Saat itu kepala keluarga Hermanto sendiri yang turun tangan dan mengajukan kontrak pernikahan kepada Gerald. Pernikahan ini mengejutkan seluruh kota. Hal ini menjadi lelucon dan gosip besar di seluruh kota karena Hana dinikahi oleh seseorang yang tidak jelas asal-usulnya.

Hanya kakek dari keluarga Hermanto yang mengetahui identitas asli Gerald. Kakek yang menjadi kepala keluarga meninggal dua bulan setelah pernikahan itu terjadi karena sakit keras yang dia alami. Sejak itu hingga saat ini, identitas asli Gerald belum diketahui oleh siapa pun. Gerald juga tidak memedulikan apa identitasnya di masa lampau karena baginya itu hanya bagian dari kepahitan yang selalu menyakitkan.

Tiga tahun terakhir, Gerald selalu diperlakukan sinis dan tidak baik oleh keluarga Hermanto. Dia selalu menerima tatapan dingin dan sinis dari orang-orang, tetapi untuknya semua ini jauh lebih baik dibandingkan dengan masa dia diusir dari keluarga Santoso. Lagi pula hinaan dan cacian sudah melekat pada dirinya sebelum dia masuk ke keluarga Hermanto. Dia sudah terbiasa menanggung beban di pundaknya seorang diri sejak kecil.

Hari ini adalah hari ulang tahun nenek dari keluarga Hermanto. Sejak kakek meninggal, neneklah yang mengambil alih semua hal di dalam keluarga. Gerald sangat berhati-hati dalam memilih hadiah yang akan dia berikan untuk nenek. Kalau hadiahnya biasa saja, maka dia harus siap untuk menerima semua ejekan.

Gerald melakukan terbaik yang dia bisa untuk memberikan hadiah kepada nenek, tetapi hanya ini yang bisa dia lakukan dan berikan sesuai dengan uang yang dia miliki. Setidaknya semua hal yang baru saja terjadi tetap membuatnya bisa mengendalikan diri dan tenang, bahkan rasanya dia ingin tertawa mendengar orang-orang itu memintanya pulang.

Lidah kakaknya memang sangat manis. Dia fasih dalam merebut perhatian. Meskipun kakaknya mampu menyenangkan hati nenek dengan pujian-pujian yang munafik, tetapi pada akhirnya dia hanya menjadi manusia yang berakhir membusuk di dalam penjara. Kejadian ini mungkin akan menjadi titik akhir dari keluarga Santoso.

Gerald kembali merenung sejenak dan merasa bahwa ini bukanlah urusannya. Gerald hanyalah menantu dari keluarga Hermanto yang selalu ditolak di mana pun dia menginjakkan kaki selama dia hidup.

Gerald tiba di vila keluarga Hermanto. Gerald melihat seorang perempuan cantik yang mengenakan gaun merah muda sedang berdiri di depan pintu dengan penuh rasa cemas. Hana adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Dia tinggi, putih, dan senyumnya manis. Dia adalah istri Gerald yang sangat terkenal. Pernikahan ini menjadi lelucon bagi setiap orang karena Hana terlalu sempurna untuk dimiliki oleh seorang Gerald.

“Han, kamu sedang menunggu siapa?” tanya Gerald setelah berlari kecil ke arah Hana.

“Apakah hadiah untuk nenek sudah siap?” tanya Hana sembari menatap Gerald dengan penuh kekesalan.

“Sudah. Aku memilihnya dengan sangat hati-hati,” ucap Gerald sembari mengangkat kotah hadiah yang ada di tangannya.

Hana bahkan tidak menatapnya sama sekali saat berbicara. Hana tidak tahu apa yang merasuki kakeknya tiga tahun lalu sampai tega memaksanya untuk menikahi laki-laki ini dan membiarkannya masuk menjadi menantu di keluarga terpandang. Hal yang membuat Hana semakin bingung adalah kakek memegang tangannya dan memperingatkan Hana untuk tidak memandang rendah Gerald di akhir napas kakek.

Hana menjalani semua kepalsuan ini selama tiga tahun. Hana terus bertanya-tanya mengapa sampah seperti Gerald pantas mendapatkan pembelaan dari kakek? Kalau bukan karena peduli terhadap reputasi keluarga, maka Hana pasti sudah menceraikannya sejak hari pertama mereka resmi menikah.

“Jangan banyak bicara di dalam. Hari ini semua kerabat dan keluarga datang. Mereka pasti tidak akan menahan lidah mereka untuk mencibirmu. Kamu harus sabar dan menahan semua amarah. Aku tidak ingin malu karena tingkah konyolmu,” ucap Hana memperingatkan. Gerald menjawab Hana dengan sebuah anggukan kecil dan senyum acuh tak acuh.

Hana benar-benar tidak tahan melihat jawaban dari Gerald. Rasanya dia ingin membunuh Gerald dengan tangannya sendiri. Laki-laki ini tidak punya latar belakang yang jelas. Dia tidak memiliki kelebihan apa pun. Dia juga tidak pernah melakukan apa pun kecuali menyapu, mencuci, dan memasak.

Gerald tidak pernah terganggu dengan sikap ketus dan sinis Hana terhadapnya. Gerald merasa bahwa pernikahan yang mereka jalani selama tiga tahun ini tidak pernah melibatkan cinta di dalamnya. Bahkan menurut Gerald, tidak adil bagi seorang Hana untuk menikahi sampah sepertinya, jadi dia mengerti semua yang Hana lakukan.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruangan dan menatap semua kerabat yang datang.

“Hana, akhirnya kamu datang juga,” ucap salah satu tante Hana.

“Hari ini kan hari ulang tahun nenek, kenapa kamu terlambat?” tanya tante yang lain.

“Pasti mau memberikan kejutan kepada nenek, ya?” ucap paman Hana dengan senyum yang ramah.

Semua tamu dan kerabat menyambut Hana dengan penuh kehangatan dan mengabaikan keberadaan Gerald seolah dia memang tidak ada di sana. Gerald sudah terbiasa dianggap tidak ada oleh banyak orang. Dia selalu merasa lebih baik untuk mengabaikan semua sikap buruk orang-orang itu dan menggunakan energinya untuk hal lain yang lebih berguna.

Namun, dalam kehidupan yang kejam ini memang ada saja orang yang selalu tidak puas dengan apa yang kita lakukan. Sepupu Hana yang bernama Bimo pasti akan selalu mempersulit dan mempermalukan Gerald setiap bertemu. Bimo selalu memperlakukan Gerald seperti sampah. Nama baik Gerald sebagai menantu juga rusak karena Bimo selalu mengatakan hal-hal buruk tentang Gerald kepada orang lain.

“Gerald, barang yang ada di tanganmu itu untuk nenek, ya?” tanya Bimo sembari memandang Gerald dengan senyum penuh makna. Benda besar yang ada di tangan Gerald dibungkus dengan sebuah kertas kado biasa. Baru dilihat saja semua orang sudah tahu bahwa barang itu murah.

“Iya,” jawab Gerald dengan lembut.

“Kamu tidak membeli barang itu di pinggir jalan, kan?” cibir Bimo.

“Aku membelinya di toko suvenir,” jawab Gerald sembari menggelengkan kepala dengan sopan.

Meskipun Gerald mengatakannya dengan jujur, tetapi jawaban itu menimbulkan hinaan dari seisi ruangan. Hana sudah mulai memunculkan ekspresi tidak menyenangkan. Hana tidak menyangka bahwa dirinya yang belum sepuluh menit sampai di sini harus langsung kehilangan muka karena Gerald, tetapi Hana selalu diam setiap menghadapi situasi dan kondisi seperti ini.

Hana menganggap dirinya dan Gerald adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal. Dia tidak peduli betapa memalukannya Gerald, yang penting tidak ada ejekan yang menyinggung dirinya.

“Apakah kamu datang ke sini untuk bermain? Hari ini nenek berusia delapan puluh tahun. Apakah kamu tidak menggunakan hati untuk memilih hadiah?” cibir Bimo sembari berjalan ke arah meja di ruang tamu.

Di atas meja terdapat banyak sekali hadiah mewah yang terpajang. Baru sekali tatap saja sudah mampu membuat orang yakin bahwa itu adalah hadiah mahal. Hadiah yang dibawa oleh Gerald tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan itu semua. Perbedaan yang mencolok bagai langit dan bumi langsung tergambar.

“Lihat apa yang kuberikan kepada nenek. Ini adalah teh dengan kualitas yang sangat tinggi. Kamu tahu berapa harganya? Enam belas juta,” ucap Bimo dengan bangga dan angkuh.

“Oh, bagus kalau begitu,” ucap Gerald sembari melirik Hana. Hana sudah memperingatkannya untuk tidak banyak bicara, jadi dia tetap merespons ucapan yang tidak menyenangkan itu dengan sopan.

Bimo menunjukkan keunggulan hadiah yang dia bawa dengan angkuh kepada Gerald. “Hadiah yang kubawa ini tentunya lebih mahal dan mewah dari punyamu, kan?” lanjut Bimo dengan senyum yang menyebalkan. Gerald hanya menjawab dengan sebuah senyum kecil yang diiringi dengan suara tawa semua tamu yang hadir.

Meskipun Hana memutuskan untuk tidak ikut dalam masalah apa pun yang menimpa Gerald, tetapi dia sadar bahwa Gerald adalah suami yang sah secara hukum. Meskipun Hana tidak pernah membiarkan Gerald untuk menyentuhnya setitik pun dan tidak melakukan hubungan suami istri yang sewajarnya selama menikah, tetapi dia tidak tahan melihat Gerald harus menanggung malu sebesar itu di depan semua orang.

“Bim, sepertinya cukup, deh. Kalau kamu punya uang itu urusanmu. Kalau kamu membawa hadiah yang mahal juga tidak ada hubungannya dengan kami. Kamu tidak perlu memamerkannya,” ucap Hana dengan nada ketus kepada Bimo. Gerald menatap Hana dengan heran saat ini. Ini pertama kalinya Hana membelanya di depan banyak orang setelah tiga tahun pernikahan.

“Memamerkan? Han, sepertinya kamu sudah salah mengira. Apakah aku harus memamerkan sesuatu di depan sampah? Aku hanya merasa dia tidak menghargai nenek yang sedang berulang tahun. Kamu juga, memangnya kamu tidak memberinya uang untuk membelikan nenek hadiah? Kamu tahu dia tidak punya uang. Lagian sampah ini hanya bisa makan dan berlindung di dbawah ketiak istrinya. Terlihat jelas bahwa sejak awal dia memang tidak pernah menghargai kepala keluarga di sini,” cibir Bimo sembari tertawa sinis.

“Kamu...” Hana benar-benar marah dan telinganya memerah. Hana memiliki status paling rendah di dalam Keluarga Hermanto, bahkan standar hidupnya juga paling rendah. Dia merasa buruk karena tidak bisa membelikan nenek hadiah yang mahal seperti orang lain.

Saat ini, Gerald tiba-tiba berdiri dan melangkah ke arah Bimo. Gerald mengambil teh yang Bimo banggakan dan mengendusnya.

“Apa yang kamu lakukan? Itu hadiah untuk nenek. Apakah sampah sepertimu punya kemampuan untuk mencium aroma teh mahal?” cibir Bimo dengan nada marah.

Gerald mengendus teh itu dan sedikit mengernyit. “Semakin lama teh disimpan, maka aromanya akan semakin harum. Itulah alasan mengapa semakin lama usia teh, maka semakin tinggi harganya. Tetapi karena alasan ini juga banyak orang yang memalsukan keaslian teh agar harganya bisa naik,” ucap Gerald.

“Teh ini dibagi menjadi dua jenis, teh yang mentah dan teh yang sudah dimasak. Terlihat jelas bahwa sebagian besar daun teh ini berwarna hijau dan hijau tua, bisa disimpulkan bahwa ini adalah teh mentah. Teh mentah memiliki rasa yang tak tertandingi, tetapi teh mentah yang masih sangat muda mengandung kafein yang akan mempengaruhi sistem organ dalam tubuh. Butuh waktu yang lama untuk menyimpan teh ini. Semakin lama disimpan kadar dari kafeinnya juga akan menurun,” lanjut Gerald.

“Teh yang kamu bawa memang sudah cukup lama usianya, tetapi masih jauh dari kata cukup. Jika diminum sekarang maka akan membahayakan sistem organ tubuh,” ucap Gerald sembari menatap Bimo.

“Tidak salah. Aku memang sampah, tetapi kamu dua kali lipat lebih parah dariku. Bahkan kamu ingin membahayakan kesehatan nenek. Kamu tidak lebih baik dariku,” ucap Gerald sembari menunjuk Bimo. Suara Gerald yang menggema di seluruh ruangan membuat semua orang terdiam.

Halo Sobat Novelme, perkenalkan buku baru saya ini!

Terima kasih sudah membaca chapter awal ini, dijamin konfliknya makin seru lho!

Buat kalian yang menyukai novel ini, bisa vote, subscribe, komen review, dan kasih hadiah ya supaya author semangat up-nya.

Terima kasih^^

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin