Beloved Wife Membuatmu Menjadi Milikku

Membuatmu Menjadi Milikku

Waktu terasa berhenti ketika Rans menatap perempuan cantik yang kini sedang mengusap kepala Ciara dengan lembut.

Rans yang sudah terlalu muak dengan sang mama yang terus memintanya untuk menikah lagi, akhirnya berkata, “Julia, cari semua informasi tentang perempuan itu, aku akan menikahinya.”

Dua hari setelah Rans mengutarakan niatnya untuk menikahi perempuan asing yang mereka jumpai di sanggar tari, Julia datang ke ruang kerja lelaki itu dengan membawa amplop berwarna cokelat muda di tangannya.

“Saya membawakan informasi mengenai perempuan itu, Pak.”

Julia memberikan amplop tersebut pada Rans, kemudian lelaki itu duduk di sofa, sementara Julia tetap berdiri tegap di dekatnya.

Ketika Rans mulai membuka amplop itu, Julia kembali bersuara, “Pak, sepertinya Anda harus mengurungkan niat Anda untuk menikahi perempuan itu, dia sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah.”

“Kamu lupa siapa aku?” Rans bertanya dengan suara yang terdengar dingin. “Tidak peduli dia sudah bertunangan atau belum, aku akan tetap menikahinya. Bahkan jika dia perempuan bersuami sekalipun, aku akan membuat mereka berpisah.”

Rans mulai mengeluarkan beberapa kertas dari dalam amplop tersebut. Senyuman tipis pun terukir di wajahnya saat melihat betapa cantik foto perempuan yang ada di sudut kertas itu.

Dia adalah Alisya Dylanti, 24 tahun, berprofesi sebagai pelatih tari di sebuah sanggar tari yang cukup terkenal di kota ini, Sanggar Cempaka.

Setelah membaca identitas perempuan itu, Rans mulai membuka lembar selanjutnya. Seketika alisnya bertaut saat mendapati foto seorang pemuda yang tidak lain adalah tunangan Alisya.

Lelaki itu mendengkus sebal. “Kirim orang untuk mengikuti pemuda ini. Laporkan apa pun yang terlihat mencurigakan.”

“Baik, Pak.” Julia mengangguk. Saat bosnya mulai memejamkan mata sembari menyandarkan tubuhnya di soda, Julia bertanya, “Tiga puluh menit lagi kelas tari Nona Ciara akan berakhir, Pak. Apa hari ini Anda akan menjemputnya?”

Rans membuka matanya. “Ya. Tunggulah di luar, aku akan siap dalam 10 menit.”

Lagi-lagi, Julia mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Tak lupa, ia segera mengirim bawahannya untuk mengintai Kemal, tunangan Alisya.

Tak berselang lama, Rans keluar dari rumah. Tampaknya lelaki itu sudah mengganti kemeja abu dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai ke siku. Melihat bosnya datang, bodyguard yang berdiri di samping mobil segera membukakan pintu untuk Rans. Mobil itu pun mulai melaju meninggalkan kediamannya.

***

Lokasi sanggar tari yang tak jauh dari rumah, membuat Rans sampai di tempat itu sebelum kelas tari putrinya berakhir. Rans meminta Julia untuk terus memantau keadaan di luar, sementara ia sibuk memeriksa pekerjaan melalui iPad yang selalu ia bawa.

“Bilang kalau Ciara sudah keluar,” perintah lelaki itu, lalu ditanggapi dengan anggukan oleh Julia.

Tak berselang lama, riuh anak-anak yang baru keluar dari sanggar tari terdengar jelas di telinga Rans. Dari sudut matanya, ia melihat beberapa anak mulai berhamburan ke luar.

“Pak, Nona Ciara sudah keluar.” Julia yang duduk di kursi depan tiba-tiba melapor.

Rans segera menoleh ke luar jendela. Namun bukan Ciara, bukan gadis kecil itu yang berhasil menarik perhatiannya, melainkan perempuan berkaos kuning dengan selendang merah muda tipis di pinggangnya.

Dia adalah Alisya.

Ketika Rans menurunkan pandangan, ia melihat Ciara sedang bermanja dengan terus memeluk tangan Alisya, seolah tidak mau terpisah dari perempuan itu.

Alisya kemudian berjongkok untuk menyetarakan tinggi mereka, kedua tangannya menangkup pipi gadis kecil itu dengan lembut lalu mengatakan sesuatu. Rans yang berada di kejauhan hanya bisa menatap mereka.

“Apa Anda tidak ingin keluar, Pak?” Julia bertanya karena Rans hanya diam sambil terus memandang ke luar jendela.

“Nanti, biarkan Ciara bercengkrama dengan Mommy-nya.”

“Mommy?” Julia tampak bingung.

Namun, tak lama kemudian ia mengerti. Cepat atau lambat, Alisya pasti akan menjadi istri bosnya, Julia yakin itu. Karena selama ini, apa pun yang Rans inginkan pasti bisa ia dapatkan, dan perkara Alisya, sepertinya tidak sulit untuk menaklukan hati perempuan sederhana itu.

Rans keluar dari mobil lalu berjalan mendekati Alisya dan Ciara. Beberapa pasang mata yang terkagum-kagum dengan ketampanan dan kewibawaannya, mengiringi setiap langkah Rans hingga lelaki itu berhenti di dekat putrinya.

“Daddy.” Menyadari kedatangan Rans, Ciara langsung menghambur ke pelukan lelaki itu.

Sama seperti Alisya, kini Rans juga berjongkok untuk memeluk putri kecilnya. Barulah sesaat kemudian ia berdiri sambil menggendong Ciara.

“Bu Alisya, ini daddy-ku. Dia tampan, kan?” Ciara langsung mengenalkan Rans pada Alisya.

“Y-ya… daddy-mu tampan, makanya kamu juga cantik, Cia,” jawab Alisya tampak canggung.

Bagaimana tidak? Jantung Alisya sudah berdebar begitu Rans mendekat ke arahnya, dan kini, ia terpaksa harus memuji ketampanan lelaki asing itu demi murid kesayangannya.

“Terima kasih,” ucap Rans ramah, lalu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.

“Ransley.”

“Alisya,” balas perempuan itu saat mereka sudah berjabat tangan. “Bagimana saya harus memanggil Anda? Pak Ransley atau–”

“Rans. Panggil saja Rans.”

“Ah... oke, Pak Rans.”

Alisya tersenyum dan mengira kalau mereka tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat ini. Mengingat ia hanya pelatih tari yang sangat jarang berkomunikasi dengan orang tua dari anak-anak binaannya.

Namun, perkiraan Alisya salah. Satu minggu setelah pertemuan itu, mereka kembali dipertemukan dalam sebuah pesta yang cukup besar, yakni pementasan tari tradisional sebagai perayaan ulang tahun sanggar.

Para tamu undangan sudah duduk dengan rapi di meja-meja bundar yang ada di depan panggung acara. Begitu juga dengan Rans yang duduk di meja paling belakang.

Tak ada satu orang pun yang duduk satu meja dengan lelaki itu. Bukannya mereka tak mau, hanya saja, wali murid yang lain lebih memilih duduk di depan supaya mudah menyaksikan penampilan anak-anak mereka.

“Permisi.” Seorang pramusaji dengan nampan berisi beberapa gelas minuman mendatangi meja Rans. “Mau minum, Pak?”

“Boleh,” jawab Rans, kemudian meraih segelas minuman dari nampan tersebut. Menyesapnya sedikit, dan kembali mengalihkan perhatian ke arah panggung acara.

Sekumpulan anak-anak mulai menaiki panggung dan bersiap untuk menampilkan sebuah tarian. Salah satu dari anak-anak itu adalah Ciara.

Suasana menjadi meriah, alunan musik dan tepuk tangan dari tamu undangan mengiringi penampilan mereka. Rans terus menikmati penampilan Ciara sambil sesekali menyesap minuman yang ada di gelasnya.

Hingga datanglah seseorang yang kemudian bertanya, “Boleh saya duduk di sini, Pak?”

Rans menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum saat mendapati Alisya sudah berdiri di sampingnya. “Iya, silakan.”

“Terima kasih,” ucap perempuan itu kemudian duduk di kursi yang paling dekat dengan Rans.

Sialnya, sejak perempuan itu duduk di sana, Rans sudah melupakan tujuan awalnya datang ke tempat ini. Ia yang harusnya melihat ke arah panggung sampai Ciara selesai menari, kini sudah mengalihkan seluruh perhatiannya pada Alisya.

Rans juga tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi perasan aneh di dadanya membuat lelaki itu enggan mengalihkan pandangan dari menatap Alisya.

Di tengah keseriusannya memandangi perempuan itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur, membuat semua orang yang ada di sana berhamburan mencari tempat untuk berteduh.

Sejak tadi, langit memang terlihat lebih gelap dari biasanya, tapi tak ada yang mengira kalau itu adalah mendung.

Sama seperti yang lain, Alisya sudah berdiri dan bersiap untuk berteduh, tapi langkahnya tiba-tiba berhenti ketika sebuah jas hitam mendarat di atas kepalanya.

Itu adalah jas milik Rans.

Tanpa diduga, lelaki yang–bisa dikatakan–tak pernah peduli dengan kesusahan orang lain itu rela melepas jasnya untuk melindungi Alisya dari guyuran hujan. Ia bahkan rela memayungi perempuan itu dan menuntunnya ke teras sanggar.

“Terima kasih, Pak,” ucap Alisya yang wajahnya sudah merona karena perbuatan Rans. Bahkan dadanya sudah berdebar tidak karuan.

“Sama-sama.” Rans menyampirkan jas itu di pundak Alisya.

Rupanya, 15 meter di belakang mereka, berdiri seorang laki-laki yang sedari tadi sudah memperhatikan Alisya. Di wajahnya yang tampan terulas senyuman tawar saat melihat sang kekasih sedang bersama dengan lelaki lain.

Tak mau melihat kekasihnya disentuh oleh lelaki lain, lelaki itu berjalan mendekati Alisya dan berkata, “Singkirkan tangan Anda dari pundak pacarku, Om.”

Damn!

Rans mengumpat di dalam hati lalu menjauhkan tangannya dari Alisya. Sejak awal, Rans memang tidak berniat menyentuh pundak perempuan itu, ia hanya menyampirkan jasnya di pundak Alisya supaya perempuan itu tidak kedinginan.

Namun, lelaki tak punya sopan santun itu justru membuat Rans seolah-olah terlihat seperti tersangka yang baru saja tertangkap basah usai melakukan tindak kejahatan. Lebih parahnya lagi, lelaki itu memanggilnya ‘Om’?

Sial!

“Kemal, dia hanya menolongku.”

Alisnya berusaha menenangkan pacarnya yang sudah tersulut emosi. Kemudian berbalik meminta maaf pada Rans karena Kemal sudah kurang ajar padanya.

“Maaf, Pak. Kadang-kadang, dia memang sedikit berlebihan.”

Belum sempat Rans menjawab, tiba-tiba Kemal menyela, “Apaan sih! Ngapain pakai minta maaf? Harusnya dia yang minta maaf karena sudah sembarangan menyentuhmu.”

“Kemal, stop it! Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.” Alisya tampak kesal.

Sekali lagi, ia meminta maaf pada Rans sebelum akhirnya menarik tangan Kemal dan mengajak lelaki itu untuk pergi dari sana.

Rans hanya menatap kepergian mereka dengan ekspresi datar. Meski sempat dibuat kesal dengan ketidak-sopanan Kemal, nyatanya kini Rans mulai tersenyum puas karena sudah membuat mereka berseteru.

Rans sadar, ia sedang berhadapan dengan Kemal yang notabennya adalah tunangan Alisya, tapi karena alasan inilah Rans justru semakin menginginkan perempuan itu untuk menjadi miliknya.

Bersambung....

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin