LOVE FROM MADRID Apa hidup seabsurd ini?

Apa hidup seabsurd ini?

LFM 1

APA HIDUP SEABSURD INI?

PLAAAK!!! PLAAAK!!!

Dua kali tamparan bolak-balik mendarat mulus di pipi Darren.

Darren yang sedang memeluk Kiara yang tengah menangis sontak melepaskan dekapannya dari perempuan itu saat Tatiana, sang kekasih sekaligus calon istrinya muncul tiba-tiba entah dari mana.

“Tia! Apa-apaan sih kamu?” tanya Darren kaget sambil memegang pipinya yang perih akibat stempel jari-jari yang dilayangkan Tatiana ke mukanya.

"Apanya yang apa-apaan?" balas Tatiana seraya memandang tajam pada Darren dengan sepasang mata bulatnya. "Tega kamu ya, Ren! Kita udah mau married dan tinggal selangkah lagi, tapi kamu berani-beraninya main di belakangku."

“Tia, kamu dengar aku dulu, aku nggak main belakang, aku-“

“Sudahlah, Ren! Aku paham sekarang. Jadi ini alasannya nama aku sudah diganti dengan nama orang lain di buku WO itu?”

“Tia, ini nggak seperti yang kamu bayangkan, aku bisa jelasin semuanya.” Darren berusaha menggapai tangan Tatiana dan menepis tangan Kiara yang sejak tadi bergelayut manja di lengannya.

“Lepaskan aku!” Tatiana menyingkirkan tangan Darren yang mencoba memeluknya.

Tatiana lantas beralih pada perempuan yang sejak tadi berada di dalam dekapan Darren. Perempuan itu tampak ketakutan menatap mata Tatiana yang menyala-nyala.

Dengan gerakan cepat Tatiana mengambil gelas minuman berkarbonasi yang berada di atas meja lalu menyiramnya ke arah perempuan itu. Dia terkesiap, namun sama seperti Darren, tak ada yang mampu dilakukannya.

Tatiana menginjak keras kaki Darren, sampai laki-laki itu menjerit kesakitan.

Tatiana tidak peduli. Dengan penuh kemarahan dia berbalik, tak mempedulikan tatapan orang-orang di resto itu, yang masih menjadikan mereka sebagai fokus perhatian.

Tatiana segera masuk ke dalam taksi yang sejak tadi menunggunya. Selama beberapa saat dia hanya bisa duduk tanpa melakukan apa-apa. Tatiana mengatur nafasnya yang sedikit sesak akibat emosi yang meluap tadi. Gemuruh di dadanya mereda setelah dia meminum setengah botol air mineral ukuran medium.

Tatiana berkaca di cermin kecil yang baru saja dia ambil dari dalam tas. Wajahnya yang tadi memerah akibat marah kini sudah kembali seperti biasa. Tatiana beralih pada matanya yang kata Darren indah. Tidak ada genangan air bening disana. Tatiana tidak menangis sama sekali. Tatiana tahu, dirinya adalah perempuan yang kuat. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi seorang Darren yang kini sama sekali tak berharga di matanya.

“Mbak, kita ke mana?” tanya supir taksi yang sejak tadi diam menunggu Tatiana mengatakan tujuannya.

“Ke mana saja, Pak, yang penting pergi jauh dari sini.”

“Tapi, Mbak, jauhnya ke mana?” Supir taksi bertanya bingung. Tidak tahu harus membawa Tatiana ke mana.

“Pokoknya Bapak jalan saja dulu, nanti kalau saya bilang berhenti, ya berhenti.”

“Baik, Mbak.”

Taksi yang ditumpangi Tatiana pun bergerak dan melintasi jalan raya. Dalam diam, Tatiana kembali teringat kejadian beberapa jam yang lalu.

Tadi, Tatiana datang ke kantor wedding organizer tempat Darren mendaftarkan pernikahan mereka guna memeriksa dan meyakinkan sejauh mana persiapannya. Tapi alangkah terkejutnya dia saat menemukan fakta bahwa bukan namanya yang menjadi pasangan Darren dalam buku pendaftaran pernikahan.

“Hah! Apa? Ini bukan nama saya, Mbak. Mbak pasti salah tulis,” protes Tatiana pada perwakilan wedding organizer yang sedang berbicara dengannya.

“Nggak, Mbak Tia, Mas Darren sendiri yang mendaftarkannya. Dan, kami sudah mengkonfirmasi ulang. Semua data yang ada pada kami sudah akurat,” ujar perempuan berambut ikal dengan lipstick merah tomat di hadapan Tatiana.

Tatiana menggeleng tidak percaya. Matanya menatap nanar pada tulisan berwarna hitam yang tertera di buku pendaftaran pernikahan. Bukan namanya yang tertera di sana, tapi nama perempuan lain. Bukan Tatiana Jamaica, tapi Kiara Maharani. Tatiana tidak habis pikir, bagaimana mungkin Darren salah mendaftarkan namanya?

Dari rumah, Tatiana begitu bersemangat. Apapun yang menyangkut pernikahan selalu membuatnya antusias. Bagaimana tidak. Menikah dengan Darren, lelaki yang sangat dicintainya merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang sudah lama diimpi-impikannya. Namun, saat mendapati kenyataan bahwa bukan namanya yang menjadi pengantin wanita, Tatiana seolah dijatuhkan dari tempat yang paling tinggi ke dasar jurang yang paling dalam.

Ah, ini pasti salah. Kesalahan besar yang teramat fatal. Kalau pihak WO tidak mau mengaku, jadi Tatiana pikir kesalahan penulisan nama itu adalah kekhilafan Darren. Pasti tidak salah lagi.

‘Aku harus menghubungi Darren sekarang dan meminta klarifikasi,’ pikir Tatiana.

Detik selanjutnya dia sudah terhubung dengan pria berusia seperempat abad itu melalui panggilan seluler.

“Ren, kamu di mana? Aku sekarang di kantor WO, tapi kenapa bukan namaku yang terdaftar? Mereka bilang nggak salah dan datanya sudah akurat. Mereka juga bilang sudah konfirmasi ke kamu. Ini pasti salah kan, Ren? Kamu salah tulis nama aku kan, Ren? Kamu pasti lagi nggak fokus kan?”

Hening. Tidak sepotong kata pun keluar dari mulut Darren sebagai jawaban atas rentetan pertanyaan Tatiana.

“Ren, kenapa kamu diam saja? Kamu dengar suaraku kan, Ren? Tolong jawab aku, Ren!” Suara Tatiana terdengar menuntut dan sangat mendesak.

Hening itu kini berganti dengan helaan nafas Darren yang berat. Seperti ada sesuatu yang menggayuti hati dan membebani pikirannya.

“Darren!” panggil Tatiana semakin tidak sabar. Entah mengapa sikap laki-laki itu terlihat aneh dan tidak seperti biasa.

“Eh, iya, kamu lagi di kantor WO ya sekarang? Tunggu di sana dulu ya, sebentar lagi aku sampai.”

Akhirnya Tatiana bisa bernafas dengan lega, meski tidak sepenuhnya. “Jangan lama-lama ya, Ren!”

Tidak ada lagi sahutan dari Darren. Tatiana menjauhkan handphone dari telinganya dan melihat ke layar. Ternyata panggilan sudah terputus.

Aneh. Tidak biasanya Darren bersikap begitu. Entah apa yang terjadi padanya. Mungkin Tatiana akan mengetahuinya nanti setelah mereka bertemu.

Menunggu Darren, Tatiana duduk dengan gelisah di ruang tamu kantor WO tempatnya berada sekarang. Untuk membunuh kegalauan, Tatiana mencoba memikirkan hal yang indah-indah. Membayangkan kembali sikap Darren yang selama ini baik, perhatian, serta romantis padanya. Tanpa Tatiana sadari segaris senyum terbit di bibirnya. Kisah cinta yang mulus tanpa hambatan akhirnya akan berakhir di pelaminan hanya dalam hitungan hari. Dan setelah itu mereka akan menjadi pasangan yang paling berbahagia. Tatiana sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. Hari dimana dia dan Darren akan menjadi raja dan ratu sehari.

Tatiana sudah membayangkan indahnya gaun pengantin berwarna putih dengan ekor sepanjang dua meter melekat sempurna di tubuhnya. Juga stiletto setinggi dua belas senti membuat kaki panjangnya semakin jenjang.

Lalu, rambut lurus bergelombangnya akan dihiasi sebuah tiara yang membuatnya seperti seorang ratu sungguhan. Orang-orang pasti akan mengagumi wajah manisnya yang terlihat semakin jelita dengan riasan pengantin minimalis. Di sebelahnya Darren akan tersenyum bangga. Terlebih saat malam pertama Darren mendapatinya dalam keadaan yang masih suci.

Lama menunggu, Darren tak juga datang sehingga membuat kesabaran Tatiana menemui ambangnya. Perempuan itu kembali menelepon sang kekasih. Namun kali ini tidak ada jawaban.

Akhirnya Tatiana meninggalkan kantor WO dan mencari Darren di tempatnya biasa mangkal bersama teman-temannya. Dari sana Tatiana mendapat informasi bahwa ada salah satu dari temannya melihat Darren sedang berada di sebuah resto. Tatiana lantas datang ke resto itu dan menemukan Darren sedang berpelukan mesra dengan perempuan lain.

Suara decit rem mobil yang ditekan tiba-tiba membuat lamunan Tatiana tergilas habis. Tubuhnya pun terdorong ke depan.

“Astaga, Pak! Kalau nyetir hati-hati dong, Pak!”

“Maaf, Mbak, tadi ada yang menyalip dari kiri, makanya saya kaget.” Supir taksi membela diri.

“Ya sudah, Pak, saya turun di depan saja.”

Tatiana akhirnya pun turun dari taksi. Dia tidak punya tujuan yang jelas. Tapi saat ini dia tidak ingin pulang ke rumah. Tatiana butuh me time untuk menenangkan diri.

Melihat ada taman di sana, Tatiana pun menghampirinya. Mungkin dia bisa duduk sebentar di bangku panjang di bawah pohon rindang.

Baru saja Tatiana mendudukkan diri, sebuah pesan dari Daren masuk ke gawainya.

“Tia, maaf, aku tahu ini berat, tapi aku nggak bisa menikahi kamu karena aku mencintai orang lain. Setelah aku sadari, bukan kamu yang ternyata benar-benar aku cintai, tapi Kiara. Dia yang bersamaku tadi.”

Apa hidup memang seabsurd ini?

Mereka sudah merencanakan pernikahan dengan matang dan sekarang Darren membatalkannya begitu saja. Dua tahun pacaran tiba-tiba saja hubungan mereka kandas sebelum hari ‘H’.

Tatiana mengumpat sendiri. ‘Holy shit! Ternyata selama ini aku cuma menjaga jodoh orang. Laki-laki memang brengsek, nggak ada yang benar.’

Suara deheman seseorang membuat Tatiana memindahkan mata ke sisi kiri. Ternyata ada bangku lain di sana. Dan yang membuat Tatiana kaget, ternyata lelaki yang berdehem tadi dan sedang duduk di bangku taman itu adalah Bian, paman atau omnya Darren.

“Sendiri?” tanya Bian dari tempat duduknya.

Tatiana mengangguk pelan. Matanya memperhatikan langkah kecil Bian yang kini menghampirinya.

“Boleh aku duduk di sini?”

“Boleh,” sahut Tatiana lirih sembari menggeser posisinya.

“Kamu kenapa sendiri di sini? Darren mana?” Kepala Bian celingukan mencari sosok keponakannya.

“Aku sudah putus dengan Darren.”

“Eh, apa? Bukannya kamu akan menikah dengan Darren?” Bian menjadi heran. Setahunya Tatiana akan berumah tangga dengan keponakannya itu.

Tatiana menggelengkan kepala. “Nggak, Bi, dia selingkuh. Dia baru saja membatalkan pernikahan kami,” ucap Tatiana pahit.

“Selingkuh?” Bian mengulang kata-kata Tatiana.

“Aku nggak tahu harus menamakannya apa. Tapi dia membatalkan pernikahan kami untuk menikah dengan orang lain. Apa itu bukan pengkhianatan?”

Bian menelan saliva. Dia mengerti perasaan Tatiana karena baru saja mengalami hal yang sama. “Aku juga sudah putus dengan pacarku. Dia juga selingkuh.”

“Senasib dong. Kalau gitu kita nikah aja, yuk!” ajak Tatiana asal tanpa pikir panjang.

Bian, pria kharismatik dengan wajah tidak membosankan itu pun berucap lugas, “Okay!”

Keduanya kemudian saling menautkan jari kelingking sebagai bentuk penyataan deal atau komitmen.

Bersambung.

Hai readers, gimana bab pertamanya? Yay or nay? Kalo suka boleh lanjut, dan jangan lupa tambahkan ke rak buku. Ditunggu reviewnya juga yaa… Terima kasih.

Zz.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin