Married With Mr. Dev Permulaan

Permulaan

Nayra duduk di sebuah kamar yang sangat luas, hawa dingin malam itu begitu menusuk membuat tangannya bersedekap untuk memberikan rasa hangat di sekitar tubuhnya.

Ekor matanya menyapu setiap sudut ruang yang terlihat begitu menyeramkan dan asing ini.

Derap langkah kaki terdengar mendekat, suara sepatu yang berbenturan dengan lantai marmer terdengar menggema jelas di telinganya.

Nayra memelototi pintu kamar yang masih tertutup. Jantungnya berdetak dengan penuh kewaspadaan. Langkah itu semakin lama semakin mendekat.

Ceklek ....

Suara pintu terbuka berhasil Nayra tangkap. Sedikit cahaya masuk ke dalam kamar yang hanya disoroti  lampu-lampu yang sedikit redup saat pintu kamar baru saja  terbuka.

Sepasang kaki berbalut sepatu fantovel yang hitam berkilat-kilat kini memantul di manik mata Nayra yang berwarna hitam pucat. Jelas sudah. Nayra menunduk saat seseorang berdiri di ambang pintu.

Nayra beranjak berdiri. menundukan pandangan, dan membiarkan sebagian rambut hitamnya berhamburan membingkai wajahnya yang nyaris membeku.

Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Kini ia bisa melihat sepasang kaki itu berjalan tegas ke arahnya. Nayra tak berani menatapnya ataupun hanya sekedar mengangkat dagu untuk melihat siapa yang  datang menemuinya.

Langkah kaki orang itu berhenti tepat di hadapannya. Aroma tubuh maskulin dengan parfume bulgarian menggelitik di indera penciumannya.

"Apa dia orangnya?" gumam Nayra yang sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat orang itu.

"Pakailah pakaian ini, Nona." Laki-laki yang belum ia ketahui namanya itu menyodorkan pakaian berwarna coklat didominasi merah kepada Nayra. Nayra tak langsung mengambilnya. Perlu beberapa sesaat untuk dirinya mengamati pakaian tersebut.

Dia berbicara normal. Nayra mengambil pakaian itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Te-terimakasih." Nayra berucap dengan sedikit terbata. Sekelebat masih dipenuhi dengan pertanyaan akan pikirannya dirundungi rasa ketakutan yang semakin menjadi-jadi.

"Perkenalkan saya, Kaisan. Nona bisa memanggil saya, Kai. Saya pengawal Tuan Dev." Suaranya tegas, dan ... jantan seperti laki-laki dewasa dan matang pada umumnya.

Bukan dia orangnya? Nayra mengembuskan napas yang begitu lega, wanita itu kini memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap Kai.

Laki-laki yang ada di hadapannya itu terlihat sangat tampan dan begitu gagah. Memiliki tubuh lebih tinggi setengah inchi dari tubuhnya. Bulu-bulu tipis terlihat menghiasi dagunya yang putih dan bersih. Tubuhnya yang kekar dibalut kemeja warna biru yang nyaris tak membendung isinya. Demi apapun, mata Nayra mendadak lumpuh hingga tak berkedip sedikit pun. Namun Nayra sadar diri, bahwa dirinya sudah menikah, dan suaminya ialah atasan dari laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.

"Nona?" Suara Kai menyadarkan pikiran Nayra yang terkutuk.

"Di-di-mana, Tuan Dev?" Nayra memberanikan diri bertanya kepada Kai sesaat setelah ia mengalihkan pandangannya.

"Tuan Dev berada di kamarnya, jika Tuan Dev menginginkan Anda, dia akan datang kemari. Jika dia tidak menginginkan Anda, jangan coba-coba untuk berani menemuinya di kamar."

"Apa ini? dia akan menemuiku jika hanya menginginkanku? sungguh konyol! Tapi tidak masalah, setidaknya ini lebih menguntungkan untuk diriku."

"Ehm, berarti kami tidur terpisah?" tanya Nayra.

"Iya, Nona. Untuk sementara waktu."

"Hanya sementara? selamanya tidak apa-apa."

"Pelajari ini, Nona." Kaisan memberikan buku kecil kepada Nayra, wanita itu segera menerimanya dan membuka buku kecil yang terdapat banyak tulisan di sana.

"Apa ini, Tuan?"

"Panggil saya Kai!" perintah Kai.

"Ma-maaf, apa ini, Kai?" tanya Nayra.

"Ini daftar keseharian yang harus Nona lakukan di rumah ini. Dan Nona harus mematuhinya. Jika Nona melanggar, saya tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Tuan terhadap Nona."

Kedua mata Nayra membulat sempurna. "Apa semenakutkan itu, dia?" gumam Nayra. Pikirannya mulai berpikiran hal yang tidak-tidak jika Dev laki-laki yang telah menjadi suaminya itu marah dan mengamuk kepadanya—atau bahkan dia bisa membunuhnya. Bukankah orang yang sudah tidak memiliki mental akan bertindak nekat? pikirnya. Sungguh mengerikan.

Nayra bergidik ngeri membayangkan jika dirinya melakukan kesalahan dan suaminya akan berperilaku kasar kepadanya.

"Ba-baiklah, Kai. Aku akan mempelajarinya."

"Apa ada yang ingin Nona tanyakan lagi?" tanya Kai.

"A-apa aku masih tetap boleh kuliah?"

"Boleh, tetapi nanti Nona sudah tidak bisa sebebas dulu. Nona harus pulang tepat waktu Nona bisa membaca di catatan buku itu."

"Apa ada yang ingin Nona tanyakan lagi?"

"Tidak ada." Nayra menggeleng pelan kepalanya.

"Jika Nona membutuhkan sesuatu, Nona bisa memanggil pelayan dengan menekan tombol merah yang ada di dekat pintu."

"Baiklah, Kai. Terimakasih."

"Sama-sama, Nona, saya permisi." Nayra memperhatikan Kai yang membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan kamar yang ia tempati tersebut.

"Andai saja yang menjadi suamiku adalah Kai. Bertubuh tegap, sangat sopan dan berwibawa. Bahkan aku sama sekali belum melihat Dev." Nayra mendudukan tubuhnya dengan lemas di atas tepi tempat tidur.

***

Kai terlihat menuruni anak tangga, ia pun berjalan menuju sebuah lorong dengan pencahayaan lampu yang sangat terang. Tangannya mengetuk pintu, lalu memutar sebuah handle pintu saat langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan kerja.

"Permisi, Tuan."  Kai masuk dan kembali menutup pintu kamar tersebut. Ia berjalan menghampiri laki-laki yang tengah duduk membelakanginya dengan satu kaki yang terangkat di atas lututnya. Laki-laki itu memutar kursi hingga kursi kerja yang ia duduki kini menghadap persis ke arah  Kai. Laki-laki itu tak lain ialah Devan, memliki perawakan seperti Kai bahkan tubuhnya lebih tegap dan kekar. Wajahnya juga tak kalah tampan dari Kai.

"Bagaimana?" tanya Dev, ia membuyarkan tangannya yang semula ia gunakan untuk menumpu dagunya.

"Saya sudah melaksanakan perintahmu, Tuan."

"Menurutmu bagaimana gadis itu?" Dev membuyarkan lipatan kakinya dan beranjak berdiri mennggalkan tempat duduknya.

"Saya rasa dia gadis baik, Tuan. Dia juga penurut."

"Bagaimana kau bisa secepat itu menyimpulkan bahwa gadis itu baik dan penurut?" Dev melangkahkan kakinya beberapa langkah, lalu mendudukan tubuhnya di atas meja kerja, sembari mengusap-usap dagu runcingnya dan mencerna apa yang dikatakan oleh pengawal setianya itu.

"Saya bisa melihat dari cara berbicaranya dan sorot matanya, Tuan. Berbeda sekali dengan kedua kakaknya yang pernah saya temui waktu itu."

"Apa Tuan tidak ingin menemui Nona Nayra dan melihatnya secara langsung?"

"Tidak! Aku akan menemuinya setelah kau memberiku informasi tentang gadis itu. Aku yakin, dia mau dinikahkan denganku hanya karna tergiur harta saja, kau sudah tau kan apa yang besok harus kau lakukan?

"Saya tau, Tuan. Tapi--"

"Hanya satu hari saja!" seru Dev.

"Dan kau harus ingat, jangan memberi dia uang atau fasilitas apapun, kecuali aku sendiri yang menyuruhmu untuk memberinya. Jangan juga terlalu memanjakan dia! Karna di sini niatku mau menikah hanya karna mencari istri bukan seorang putri! Kau mengerti!"

"Iya, Tuan. Saya mengerti."

"Hem, sekarang kau boleh pergi dan tinggalkan aku sendiri!" Perintah Dev pun membuat Kai berpamitan dan mengundurkan diri untuk pergi dari ruangan tersebut.

"Aku sungguh ingin melihat sampai mana dia akan bertahan di sini." Dev berpindah posisi dan kembali mendudukan tubuhnya di atas kursi kerja miliknya. Tangannya mengambil sebuah foto yang ada di dalam laci, tatapannya berubah menjadi sendu saat melihat wajah wanita yang terlukis di foto itu.

"Di dunia ini tidak ada wanita yang mencintaiku setulus dia. Kau menghilang ke mana?" Dev meletakan kembali foto itu ke tempat semua, ia menyandarkan punggunya seraya memejamkan kedua matanya diringi dengan napas yang terbuang sangat berat.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin