KIANA Ibu Pengganti

Ibu Pengganti

Kiana menutup mulutnya rapat-rapat, mendorong tubuhnya ke depan sembari mengejan sepenuh tenaga. Berkali-kali, seiring dengan perintah bidan yang membantu persalinannya ini. Kiana menjatuhkan punggungnya kembali ke ranjang, saat merasai sesuatu mulai melewatinya.

"Jangan mengejan dulu, saya akan memeriksa plasentanya."

Kiana menurut, meskipun rasanya seluruh tulang di tubuhnya patah tak bersisa dan satu-satunya hal yang ingin dia lakukan adalah mengejan sekuat tenaga agar bayinya segera lahir. Kiana mengatur napasnya, tangannya mencengkram erat kain yang diikatkan di kepala ranjang.

"Dorong ketika terasa kontraksi!"

Kiana tak menyiakan kesempatan dengan segera mengejan sekuat mungkin, "Akh!" Kiana berteriak ketika merasai tubuh bagian bawahnya terasa membelah lebar.

Ini sudah ketiga kalinya ia melahirkan, tapi, tetap saja Kiana tidak terbiasa dengan rasa sakitnya. Dan sepertinya dia tidak akan pernah terbiasa.

"Perlahan!"

Kiana menggeleng, mengejan semakin kuat karena ingin segera mengakhiri siksaan ini. Kakinya bergetar tak terkontrol, dan detik berikutnya setelah ejanan panjang ia keluarkan, Kiana merasa sesuatu terdorong keluar seakan tersentak. Kiana langsung terjatuh kembali ke ranjang dengan napas tak beraturan.

Oek oek oek~

Kiana menutup matanya, menarik napas panjang dan berat di tengah napasnya yang tak teratur. Melahirkan memang terasa sangat menyakitkan, tapi khusus untuknya, hal yang terjadi setelah melahirkan lebih terasa sakit.

Kiana membuka matanya, melirik ke pintu ruangannya yang terbuka lebar. Menampilkan sepasang suami istri yang menatapi bayi yang ia lahirkan dengan bahagia. Mereka adalah orang tua kandung anak yang ia lahirkan ini.

***

"Ini yang terakhir, Nona. Aku dan istriku memutuskan untuk memiliki tiga anak saja."

Kiana sudah tahu pasti tahun ini ia harus mencari pelanggan lain untuk memakai rahimnya, tapi dia tetap saja kecewa. "Tidak masalah, Tuan Andra, Nyonya Vanessa. Saya senang bisa bekerja sama dengan kalian." sahut Kiana santai. "Saya harap anak-anak kalian tumbuh dengan baik dan sehat."

"Kami yang seharusnya berterimakasih, karena anda sudah membantu kami memiliki anak." Andra mengulurkan satu amplop putih pada Kiana, "Saya sudah menambahkan nominalnya, karena anda sangat kooperatif dalam membantu kami."

"Terimakasih banyak, semoga kita bisa bekerja sama di lain kesempatan."

Setelah berbasa-basi singkat, Kiana meninggalkan rumah keluarga kecil itu. Dia sempat melirik anak yang kemarin ia lahirkan itu, namun kemudian memilih benar-benar keluar. Dia hanya meminjamkan rahimnya, tidak lebih. Kiana berusaha menguatkan dirinya dengan mantra-mantra ajaibnya.

Kiana membuka amplop itu, dan menemukan buku tabungan dan atm di dalamnya. Semuanya sudah atas nama Kiana, dan jumlahnya pun sudah sesuai yang disepakati dengan penambahan yang tidak terlalu banyak. Kiana tersenyum bahagia, setidaknya, selama beberapa bulan ini ia tidak perlu memusingkan soal pekerjaan.

Baru setelah uang di tabungannya habis, Kiana harus mencari pelanggan lain yang tertarik menyewa rahimnya lagi. Lalu mencari tambahan dengan bekerja di pub, seperti biasanya.

Kiana memilih menyetop taksi untuk pulang ke rumah, dia merasa perlu memberikan penghargaan pada tubuhnya yang sudah bekerja keras dalam mencari uang. Di dalam taksi, setelah mengatakan tujuannya, Kiana menepuk-nepuk perutnya.

Maaf ya, aku akan menggunakanmu sementara ini sampai aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak. Kiana membatin dengan sendu. Setidaknya, aku harus bertahan hidup, bukan? Kiana memutar kepalanya untuk memandang jalanan yang dilewatinya. Menghibur perasaannya yang tiba-tiba sendu.

Kiana menggeleng-geleng. Tidak boleh, dia tidak boleh begini. Jika ia kalah dengan perasaannya, dia tidak akan bisa bertahan hidup. Padahal, ia harus bertahan hidup. Agar ketika Ayahnya kembali, Kiana akan bisa menyambutnya dengan baik.

Sudah hampir sepuluh tahun berlalu semenjak Ayahnya pergi meninggalkannya, tapi tak seharipun Kiana berhenti berharap Ayahnya akan segera kembali. Kiana tak memiliki Ibu, ia tinggal bersama Ayahnya sejak kecil. Ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang Kiana miliki, karena itulah Ayahnya adalah segalanya untuk Kiana. Kiana merasa matanya memanas ketika mengingat alasan dirinya dan Ayahnya harus berpisah.

Semua bermula ketika perusahaan Ayahnya bangkrut karena ditipu oleh teman bisnisnya, yang membuat Ayahnya memiliki hutang sangat besar. Ayahnya terpaksa meninggalkan Kiana di panti asuhan demi menjauhkannya dari para rentenir yang mengejarnya, Ayahnya bilang akan menghadapi rentenir itu sendiri dengan mencoba segera melunasi hutangnya.

Tapi, dua tahun berikutnya, Ayahnya tiba-tiba menghilang begitu saja. Hanya satu surat yang ditinggalkan Ayahnya, sebagai caranya berpamitan pada Kiana. Satu surat berisi permintaan maaf, yang Kiana sendiri tak yakin apa maknanya. Satu hal yang Kiana tahu, Ayahnya pergi karena rentenir-rentenir itu.

Dengan keyakinan itu, setelah lulus kuliah, Kiana memutuskan mendatangi rentenir itu dan berkata akan melunasi hutang Ayahnya. Dia tahu dirinya begitu nekat, tapi dia hanya ingin Ayahnya segera pulang padanya. Kiana menghalau air matanya dengan mengerjap beberapa kali, tidak ingin menjadi lemah lagi.

Dua pekerjaannya saat ini, yaitu menjadi seorang ibu pengganti juga sekaligus bekerja di bar terkenal di kotanya, adalah hal yang akhirnya Kiana lakukan demi menghasilkan uang sebanyak yang ia butuhkan. Ia membutuhkan uang sebanyak dan secepat mungkin, dan ia tidak punya pilihan lainnya.

***

"Apa ini?" Rafa memandang map coklat yang baru saja dilempar ke mejanya, "Kamu ingin kerja sama dalam bentuk apalagi?"

Rafi terkekeh, "Hei, meski kita saudara kembar, aku ini tidak sepertimu yang hidup dengan pekerjaan. Aku memiliki duniaku." Rafi mendekatkan duduknya ke meja kerja Rafa. "Aku menemukan apa yang kamu cari."

"Apa?"

"Wanita yang akan melahirkan anakmu dan Reysha."

Gerakan tangan Rafa di keyboard laptop terhenti, dia menatap Rafi dengan alis terangkat tinggi. "Kamu menemukannya?" ulangnya memastikan.

Rafi mengangguk, "Kamu bisa membaca semua data tentang wanita itu di dalam map yang kuberikan." sahut Rafi datar.

"Kamu sudah pastikan dia sesuai dengan apa yang aku mau?"

Rafi mengangguk, "Kamu tahu aku, Fa. Aku tidak pernah mengecewakanmu." jawabnya dengan nada bangga.

Rafa mencibir, "Dikatakan oleh orang yang baru saja merugikan perusahaan keluarga karena kalah dalam tender besar."

Rafi langsung bergerak hampir mengambil map coklat itu, saat Rafa dengan cekatan menjauhkannya dari Rafi. Mata Rafi menghujam saudara kembarnya itu dengan tatapan membara.

"Baiklah, baiklah, maaf." Rafa mengangkat kedua tangannya seakan sedang ditodong pistol oleh Rafi. "Aku akan membacanya nanti. Thanks, Fi!"

"Begitu lebih baik," gerutu Rafi sinis. Rafi bangkit berdiri lalu merenggangkan tubuhnya dengan tak acuh, "Ngomong-ngomong ada satu masalah tentang wanita itu."

"Apa?"

"Pekerjaannya." Rafi mengangkat bahunya dengan wajah tak terbaca, "Kamu lihat saja di map itu. Aku pergi."

Setelah Rafi pergi, Rafa mengangkat map coklat itu ke depan wajahnya. Pekerjaan ya, memangnya akan seburuk apa sih pekerjaannya? Selama tidak membunuh, dia tidak masalah sama sekali. Asalkan dia bisa mendapatkan anak yang ia idam-idamkan sejak dulu. Sejak sebelum menikahi istrinya.

Lima belas menit kemudian, Rafa langsung menarik ucapan dan pemikirannya tadi.

Rafa menyesap teh di cangkirnya sembari menatap jendela ruangannya yang menampakkan pemandangan jalanan kota Jakarta yang sangat padat. Dari tempatnya pun Rafa bisa tahu sebising apa suara di luar sana, dan polusi semengerikan apa yang ada di udara.

Salahkan ia yang memang terlalu cinta kebersihan, dan menyukai hal-hal yang tenang. Sehingga kepadatan di bawah itu membuat kepalanya seakan mau meledak. Tapi, saat ini dia perlu memandanginya agar otaknya yang terlalu kaku ini bisa sedikit mencair.

Rafa melirik kertas-kertas yang kini bertumpuk di atas map coklat, yang tadinya berada di dalam map itu. Rafa menghela napasnya, lalu kembali menatap jendela.

Rafi memang hebat, dia bisa mendapatkan apa yang Rafa mau meski sangat mustahil. Wanita dengan tanggal, bulan, dan tahun lahir yang sama dengan istrinya. Bahkan golongan darahnya pun serupa. Semuanya memuaskan, Rafa benar-benar seakan menemukan yang ia cari selama dua tahun ini.

Tapi, selalu ada tapi karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Rafa menghela napasnya, kenapa, dari sekian banyak pekerjaan di dunia ini, kenapa dia harus menjadi seorang wanita penjaja seksual? Kenapa?!

Rafa berbalik, meletakkan cangkir tehnya ke meja. Dibacanya sekali lagi tulisan yang ada di kertas itu, "Kiana Sevilia Permadi." Gumam Rafa lirih. "Kenapa pekerjaanmu harus semengerikan itu, hei wanita?" gerutunya sebelum memasukkan kertas-kertas itu kembali ke dalam map coklat.

Tidak, Rafa masih memiliki akal sehat. Meskipun dia sangat ingin memiliki seorang anak, tapi dia tidak mungkin memilih wanita seperti ini menjadi ibu dari anaknya, meskipun hanya ibu pengganti sekalipun. Reysha juga pasti tidak akan setuju, istrinya itu jauh lebih pemilih daripadanya.

Ya, lupakan saja. Pasti ada wanita lain yang lebih tepat dan sesuai dengan apa yang Rafa inginkan. Ya. Rafa menutup matanya dengan tangannya yang menyangga di dahi. Hening selama beberapa detik, sampai akhirnya Rafa kembali membuka matanya.

"Shit!" umpatnya dengan emosi, tangannya mengambil ponsel di mejanya lalu menekan nomer seseorang yang dia hafal luar kepala. "Di mana aku bisa menemui wanita ini?"

***

"Rumah yang mana?"

Kiana tersentak, lalu tersadar bahwa taksinya sudah sampai di daerah rumah Kiana. "Saya turun di sini, Pak." ucapnya sembari melirik argo yang bergerak di dekat Supir Taksi. Kiana mengangsurkan uang pada Supir, lalu segera keluar dengan menenteng tasnya.

Ia memang sengaja turun agak jauh, agar bisa berjalan sedikit untuk menjernihkan pikirannya. Memikirkan Ayahnya selalu membawa kerinduan yang tak pernah usai, membuat perasaan Kiana menjadi sendu dan sedih. Tapi, Kiana tak ingin terbawa oleh perasaan itu.

Kiana berjalan santai, sembari bernyanyi riang, mengabaikan rumah tetangga yang ia lewati. Karena memang Kiana tidak mengenal mereka. Ia sengaja mengontrak rumah di sini karena memang lingkungannya yang sangat acuh, sehingga tidak ada yang memedulikannya ketika ia tinggal sendiri dengan kehamilannya sampai tiga kali. Selain itu, harganya juga cukup terjangkau.

Kiana memelankan langkahnya saat melihat seorang pria berdiri di depan rumahnya, bersandar di sisi tembok yang menyela di pagar rumahnya. Kiana memperhatikan wajah pria itu, dan langkahnya langsung terhenti. Mulutnya terbuka lebar demi untuk mengagumi ciptaan Tuhan yang maha indah.

Kiana memperhatikan penampilan pria super tampan itu, terlihat berkelas dan mahal. Benar-benar tidak adil, sudah diberi wajah setampan itu, masih juga diberikan kekayaan yang berlimpah. Tapi, untuk apa pria setampan ini berada di jalanan rumahnya ya? Kiana mengangkat bahunya untuk mengabaikan, lalu berjalan melewati pria itu untuk masuk melewati pagar rumahnya.

"Kiana Sevilia Permadi?"

Langkah Kiana terhenti, dia menoleh ke arah pria itu dengan kening berkerut bingung. "Ada keperluan apa ya?" tanyanya curiga.

Pria itu menegakkan punggungnya, "Saya dengar anda membuka jasa sebagai ibu pengganti untuk pasangan yang tidak bisa memiliki anak," Pria itu menggumam dengan pelan, kelihatan sekali keraguan di kedua matanya. "Saya tertarik untuk menggunakan jasa anda."

"Oh?" Kiana merasa tidak yakin ketika melihat penampilan pria ini, apakah ia benar-benar menginginkan dirinya menjadi seorang Ibu pengganti untuk anaknya?

"Ah, saya lupa memperkenalkan diri." Pria itu tersentak seakan tersadar saat melihat wajah Kiana yang masih sangat kebingungan, lalu ia mengulurkan tangannya, "Sultan Arafa Sanjaya."

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin